Tandur : Kritik Agraria dalam Panggung Teater

Potret penampilan pementasan “Tandur” oleh Teater Sirat di panggung Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta (25/10/2021).

LOCUS (25/10/2021) – Teater Sirat menampilkan pertunjukan bertajuk “Tandur” dalam Rangkaian acara Gatra Mutiara Jawa di Taman Budaya Jawa Tengah. Pementasan ini mengangkat tradisi menanam yang merupakan salah satu cara kritik sosial terhadap masyarakat karena mulai berkurangnya lahan pertanian maupun keiinginan generasi muda untuk bertani.

“Inilah pementasan Tandur dari Teater Sirat” seru pembawa acara Pagelaran Seni Tradisi Jawa Tengah 2021 : Gatra Mutiara Jawa.

Sorot lampu itu mulai redup begitu pula iring–iringan musik di panggung yang sayup-sayup berhenti dan digantikan gemuruh tepuk tangan dari penonton. Beberapa wanita tua dan bapak-bapak dengan cangkul di tangannya serta caping yang menutupi sebagian raut wajahnya memasuki area panggung. Mereka tertawa ria dengan benih padi di tangannya. Suasana menjadi haru, sorot lampu pun hanya tertuju pada seorang wanita dan laki-laki yang membawa plang bambu berbentuk persegi di tengah panggung. Perlahan wanita tua menggerakkan tangannya yang membawa benih padi itu ke kanan dan ke kiri sembari menyanyikan lagu jawa.

Para petani yang semula riang gembira, perlahan menampakkan raut wajah sedih dan menangis. Mereka mengeluarkan isi dari bakulnya yang berupa paku dan uang yang mereka sebar di lahan pertanian mereka. Adegan yang berdurasi sekitar setengah jam itu disambut meriah oleh para penonton, sebagai pertanda pertunjukan telah berakhir.

Pentas dengan premis cerita petani yang kehilangan lahannya ini membutuhkan riset selama empat tahun. Tema serupa juga pernah diangkat Sirat dalam pementasan Festival Teater Jawa Tengah dan mendapatkan penghargaan sebagai penyaji terbaik di tahun 2019.

Saipul selaku sutradara bercerita mengenai pengalaman pribadinya, ketika ayahnya tidak punya lahan garapan kemudian ia menanam di sebuah lahan kosong tetapi malah ditentang oleh tuan tanah. Padahal notabene tanah tersebut sudah kosong bertahun – tahun tidak ditanami tanaman ataupun didirikan bangunan hanya dibiarkan begitu saja.

kan nggateli sing ndue, wis digarap ra entuk padahal itu adalah tanah yang produktif,” ungkap pria yang akrab disapa Ipul.

Ia menambahkan bahwa orang-orang yang berpikir kapitalis yang menjadikan tanah hanya sebatas aset untuk investasi ataupun dalih pembangunan infrastruktur negara seperti jalan tol, padahal berapa ratus ton (beras) yang mungkin bisa dipanen dari lahan- lahan itu. Lalu bagaimana petani bisa menanam kalau sudah tidak ada tanah untuk ditanami. Tragisnya lagi kesadaran tiap individu untuk merawat tanah dan menanam yang tiap hari makin hilang.

Pun demikian yang dialami pemuda jaman sekarang, dimana mereka enggan menjadi petani dan menggarap sawah karena pekerjaan petani dianggap rekasa serta tidak relevan lagi dengan zaman. Mirisnya orang tua pun berpikir demikian, jangan sampai anak – anaknya merasakan kesulitan seperti mereka. Hal inilah yang disayangkan oleh Saipul, menurutnya pemikiran itu tidak seharusnya dilontarkan kepada anak sebagai penerus bangsa.

Dino Tantowi selaku Lurah (ketua-red) Teater Sirat mempunyai cara pandang yang berbeda melihat masalah ini, ia beranggapan bahwa dalam suatu pembangunan tentunya dibutuhkan pengadaan lahan yang menumbalkan hektaran lahan baik milik masyarakat maupun pemerintah. Dino merasa hal itu tidak terjadi di Soloraya. Ketika sawah – sawah dibeli untuk dibangun infrastruktur para petani malah senang karena mereka bisa menjadi miliarder hanya dengan menjual tanah. Ia menilai bahwasanya panggung pementasan adalah wahana untuk mengekspresikan pemikiran. Di pentas kali ini Sirat membidik pola pikir masyarakat agar mengetahui masalah – masalah seperti ini.

Bagi Saipul pementasan “Tandur” ini bukan untuk mengkritisi pemerintah atau pihak manapun tetapi murni ditujukan untuk kesadaran masing-masing. “Orang-orang saat ini saat mempunyai tanah pasti bayangannya, wah ini bagus didirikan bangunan, didirikan ruko dan lain sebaginya. Nah kenapa tidak memilih untuk ditanami? Karena menanam ini adalah untuk keberlangsungan hidup yang sangat luar biasa,” tambahnya (25/10/2021).

Reporter: M. Hermawan
Editor: Alfida
Fotografer: Dwi Parwati
Redpel : Nurul

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Tandur : Kritik Agraria dalam Panggung Teater

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *