Sebait Puisi

Seperti halnya dirimu, senja membuat setiap orang terpaku akan keindahan warnanya. Sebagian orang ingin memilikinya untuk menemani mereka menghabiskan hari. Dan aku dengan serakahnya ingin membuatnya hanya menjadi milikku seorang.

Dengan tanpa sadar aku memencet tombol send dan ups, aku tersadar kemudian melihat nama pada daftar chat layar ponselku. “Matilah aku!” aku benar-benar mengumpat.

Sore berlalu. Burung-burung berterbangan mengikuti nada cahaya senja sore ini. Aku sejenak melupakan hal bodoh yang baru saja kulakukan. Mengirimkan kalimat yang kuanggap puitis dan lebay keponselnya. Ah bodo! Aku kembali mengumpat dan kali ini benar-benar membuatku malu.

Bagai angin yang kemudian hanya dapat dirasakan tanpa bisa diraba dan ku genggam. Begitulah kiranya aku untuknya.

Aku hampir saja melempar ponselku ketika membaca balasan darinya. Angin yang lewat? Aku untuknya?

Sore meninggalkan sebaris bentangan warna jingga dari selatan ke utara. Awan hitam kiranya sudah tak sabar untuk menutup hari ini. Matahari sore mulai meninggalkan keindahannya di belahan bumi ini, aku tidak tahu di belahan bumi lain, apakah saing? Atau juga malam sudah mulai melahap keindahan senja?

Samar-samar terdengar suara adzan tanda waktu maghrib telah tiba. Hewan malam mulai menikmati dunianya. Dan aku pun menikmati dan larut dalam duniaku.

Malam tahukah kau?

Apa yang kuinginkan dalam sebuah hari?

Meski kau sajikan kerlap-kerlip bintang seperti malam ini

Mataku tak sedikitpun berpaling dari jingga warna senja

Kenapa?

Karena lewat warnanya, aku bisa merasakan dia.

Aku menutup buku novel ketigaku tahun ini ketika sebuah pesan singkat kuterima. Kudapati namanya. Siapa? Kalian tidak perlu tahu.

Akankah malam sudi mendengar curahan hatimu itu? Bukankah akan sia-sia saat kau menyatakan semuanya pada malam? Dia yang telah mengambil indah warna jinggamu.

Tak ada yang akan kutulis untuk membalas kalimatmu itu. Aku meyakinkan hati untuk tidak membalasnya. Tapi jari ini rasanya ingin menari bersama huruf-huruf lain yang akan kususun lewat gerakannya.

Tak akan ada yang sia-sia. Seperti halnya mengungkapkan sebuah perasaan kepada dia yang kita cintai.

Entahlah. Kalimat itu tiba-tiba tersusun begitu saja. Dan tak ada jawaban lagi setelah kalimat itu hingga malam akhirnya menyerah pada kekuatan cahaya pagi.

Sinar matahari pagi masuk dan membangunkanku lewat kisi-kisi klambu yang bolong-bolong kecil. Suara ayam jantan juga ikut menyapaku ketika perlahan kubuka jendela untuk menyapa dunia. Dan tak kudapati satu kalimatpun dari dia.

Selamat pagi. Lewat cahaya pagi yang menembus jendela, lewat kisi-kisi klambu ini. Aku merasakan cintamu sampai padaku. dan terimalah balasan dariku ketika senja nanti. Aku menunggumu.

Apa yang salah pada sebuah hati yang tak mampu menghapus satu nama yang sudah lama dia tulis dalam hatinya? Bahkan di dalam pikirannya? Dan ditiap doanya sebelum tidur? Bahkan di dalam mimpinya, dia selalu menghadirkan nama itu. Salahkah dengan semua itu?

Aku menyadari. Mungkin perempuan tak pantas mengejar dia yang dicintai. Haruskah hanya menunggu tanpa menjemput?

Haruskah aku menjemput? aku menulis kalimat itu untuk memulai chat dengan dia.

Kali ini aku akan menceritakan semuanya pada kalian.

Hari-hari berlalu setelah seseorang meninggalkanku untuk perempuan lain yang lebih sering menemani kehidupannya disana. Aku tak pernah tahu kenapa lelaki dengan mudahnya menyerah hanya karena jarak? Aku pun tak akan pernah menyalahkan jarak. Karena aku berpikir Tuhan menciptakannya untuk membuat kita mengerti apa itu sebuah rindu dan sebuah pertemuan, juga sebuah kesempatan.

Dia meninggalkanku ketika hujan tak lagi bisa kurasakan. Hujan bahkan tak ingin lagi kunikmati. Dan dulu ketika kuyakinkan diri untuk tidak mengotori airnya dengan tangisku. Hari itu aku mengingkarinya.

Tapi dia seseorang yang baru kutemui, memberikan kehangatan seperti cahaya matahari pagi, dan kenyamanan seperti warna jingga senja di barat sana. Dialah Fariz, tubuhnya tak lebih tinggi dari teman-temannya, berpenampilan sederhana, rambutnya panjang sebahu seperti perempuan, senyumnya manis, dan dua lesung pipi diwajahnya, juga sebuah buku puisi yang selalu ada di tangannya.

Aku bertemu dengannya pada sebuah pertunjukan seni di kampus kami. Kebetulan dia adalah ketua salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Sastra. Waktu itu penampilannya tak begitu menarik perempuan yang ada di sekitarnya, dan siapa yang akan menyangka kalau dia seorang ketua. Dan aku mengenalnya karena tugas harianku.

Hari-hari selanjutnya menuntunku untuk selalu hadir disetiap pergelaran seni yang diadakan di kampusku. Dan pertama yang kucari adalah dia, ya Fariz lah yang kucari, entah untuk sebuah berita ataupun hanya sekedar memandangnya dari jauh.

Malam kesekian, pagelaran seni kesekian, kegiatan kesekian. Mataku dan matanya bertemu, kami saling memandang sebelum kemudian tersadar ketika seorang perempuan memeluknya.

“Hai saying.” Itulah yang kutangkap dari gerakan mimiknya. Dan Fariz membalas pelukan itu. mereka menghilang diantara keramaian penonton.

Aku berjalan pelan meninggalkan tempat itu setelah aku menyelesaikan tugasku, mewawancarai penyelenggara acara itu. Seharusnya aku bisa mewawancarainya. Malam itu, hujan turun dan aku tak ingin menikmatinya.

Jujurlah pada hatimu ketika mencintai dia (ya aku mencintai dia). Semua orang memiliki hak untuk mencintai. Tapi ketika dia tidak mencintaimu, jangan pernah merasa kecewa. Karena setiap orang juga memiliki hak untuk membalas atau mengabaikan semua itu.

Aku menutup buku catatanku. Perlahan aku menutup mataku. Mencoba menikmati suara rintik hujan kembali. Tenang.

Mentari pagi menyambutku dengan cemberut. Mendung. Aku menutup kembali setengah dari klambu yang sebelumnya sudah kubuka. Hari ini libur. Sebuah pesan singkat kuterima.

“Aku suka berita yang kamu tulis tadi malam

Dari Fariz.”

“Terimakasih.” Apakah dia juga merasakan kalo aku memikirkannya? Aku segera menyingkirkan pikiran itu. Kau harus ingat. Ada perempuan yang sudah memilikinya.

“Tapi ada yang perlu kau perbaiki, baca lagi paragraf ketiga.” Siapa dia menyuruhku? Dia bukan pemimpin redaksiku.

“Eh? Maksudnya gimana ya?”

“Namamu siapa? Aku belum sempat bertanya waktu wawancara malam itu.”

“Keisha, panggil saja Kei”

“Oke. Salam kenal Kei”

Tuhan lelaki macam apa dia? Langit pagi perlahan-lahan tersenyum.

Pada senja yang Tuhan hadirkan seiap sore.

Pada cahaya pagi yang Tuhan hadirkan.

Pada rinai hujan yang Tuhan turunkan.

Pada angin yang berhembus.

Pada dingin malam yang memelukku.

Pada siang yang memaksaku berteduh.

Bawalah salam ini untuknya.

Beritakan padanya.

Ada suara yang perlu di dengarkan.

Ada gambar yang perlu di lihat.

Ada pertanyaan yang perlu jawaban.

Dan ada rindu yang terus bergeliat.

Aku mengirimkan puisi itu pada sebuah nama. Kalian sudah mengetahui namanya. Aku tak perlu menyebutkannya lagi. Malam. Segeralah kau berlalu. Aku tak ingin merindu. (Neng Cantik)

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Sebait Puisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *