Ruang Publik Itu Bernama Komunitas Tekankan Pentingnya Media Komunitas Sebagai Ruang Publik

locus.or.id-Peluncuran hasil riset “Ruang Publik Itu Bernama Komunitas” yang diselengarakan oleh Combine Resource Institute dibuka pada tanggal 17 Juni 2021 pada pukul 14.13 WIB. Acara ini dihadiri oleh Ambar Sari Dewi sebagai moderator, Luh De Sriyani (pegiat media, Komunitas Balebengong), Roy Thaniago (peneliti media), Ferdhi Putra  (peneliti Combine Resource Institution), dan Buono (pegiat media, Komunitas Warta Desa)  sebagai narasumber utama.

Dalam diskusi online ini, para narasumber  membahas tentang media komunitas sebagai ruang publik yang eksis. Diskusi ini juga membahas berbagai hal mengenai media komunitas seperti sejarah, teori, dan permasalahan yang ada dalam media komunitas. “Ruang publik sejatinya harus relevan dan sesuai dengan konteks di masing-masing daerah,” ungkap Ferdhi.

Narasumber Roy Thaniago juga menyinggung tentang pentingnya pengakuan pemerintah terhadap eksistensi media komunitas di era digitalisasi. Mengingat bahwa media komunitas berfungsi sebagai watch dog atau anjing pengawas dalam rangka mengawasi pemerintahan sehingga media komunitas harus tetap eksis di dalam dunia pers. “Di negara kita media komunitas merupakan minoritas  di dalam ekosistem media dan kajian media serta tidak mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah,” menurut Roy Thaniago.  

Selain sebagai watch dog media komunitas juga berfungsi sebagai ruang publik dan sarana kritik bagi kekuasaan. Namun, media komunitas juga harus memenuhi 3 persyaratan sebagai ruang publik yang ideal yaitu Partisipasi, Monitoring dan Akuntabilitas Media.

Riset dalam diskusi ini mengambil argumen eksistensialis mengenai media komunitas dengan menggunakan data primer. Dalam pemaparannya, riset ini juga menganalisis dua media komunitas yaitu Balebengong dan Warta Desa sebagai media komunitas yang kredibel. Selain itu Buono dan Luh De Sriyani juga menekankan tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam media komunitas serta pentingnya verifikasi informasi dengan berdasarkan perspektif langsung dari masyarakat setempat. “Dari jurnalisme warga ini kita akan sulit dan berjarak untuk menemukan cerita-cerita dan hal yang menarik dari warga,” ungkap Luh De Sri.

Reporter : Ghifari

Penulis : Ghifari

Editor : Elsa L

Redpel : Nurul

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *