Puasa dan Mentalitas

Cobalah meluangkan waktu, untuk sesekali engkau berdiri di depan cerminmu. Kemudian pandanglah tubuhmu dari atas sampai bawah. Lihatlah, apa saja yang melekat pada tubuhmu. Sejenak saja. Tataplah wajahmu, badanmu, kaki tanganmu, pakaianmu dan seluruh penampilanmu. Tidakkah engkau menyadari barang sedikit saja, bahwa penampilanmu yang seperti: bentukkan gaya rambutmu, model pakaianmu, jenis dan warna celana dan baju yang kau pilih itu dan apa pun saja yang melekat pada tubuhmu, segalanya pada dasarnya ialah sesuatu yang engkau pilih sesuai dengan kesenanganmu.

Dan, apabila sempat tataplah pula sekeliling ruang dan sudut-sudut di dalam rumahmu serta mengenai apa saja yang menempel di dinding-dinding rumahmu. Mengenai hiasan-hiasan, jam dinding, pilihan dekorasinya, foto atau setiap gambar-gambar yang terpajang. Cobalah engkau ingat-ingat di manakah dulu engkau membelinya, memilihnya, juga aksentuasi pilihan foto yang engkau pajang itu. Lalu kembalilah ke dalam kesadaran pertama tadi, bahwa pada dasarnya pilihan yang engkau pilih itu semua adalah berdasarkan selera dan kesenanganmu.

Kegembiraan. Kesenangan. Kesukaan. Selera. Kemauan. Keinginan. Dan hal-hal yang berkonotasi makna sama serta se-wilayah dengan itu semua. Coba engkau hitung berapa persentase kesenangan yang engkau tumpuk dalam hidupmu dan berapa persen ketidaksenangan yang engkau hindari. Kemudian coba pula renungkan posisi dan sikap akal serta batinmu terhadap hal kesenangan dan ketidaksenangan yang memang engkau proses itu. Perenungan yang engkau lakukan itu akan berimbas pada pengetahuan seberapa besar kadar keterikatanmu terhadap kesenangan dan ketidaksenangan dalam kehidupan yang sedang engkau tempuh ini.

Misalnya, engkau membeli baju itu karena engkau menyenanginya. Engkau memilih sarung ataupun mukena karena engkau menyukainya. Atau, tentang engkau melakukan ini karena engkau menyenanginya dan tidak melakukan itu karena tidak menyenanginya.

Apakah engkau lahir dan menjadi warga Indonesia karena memang engkau menyukainya? Apakah engkau lahir dari rahim ibu dan memiliki bapak itu karena engkau menyenanginya? Apakah engkau duduk dan berdiri di fakultas kedokteran, pendidikan, teknologi atau apapun saja karena memang engkau menyukainya? Untuk yang sudah punya profesi atau yang kelak ingin berprofesi, yang menjadi pejabat, menteri, gubernur, walikota, bupati, camat maupun lurah ataupun ketua RW atau RT itu karena menyukainya? Apakah engkau menempuh perjalanan hidup ini karena engkau menyukainya? Juga ketika kelak kemudian engkau mati apakah engkau menyukainya pula?

Lebih jauh lagi, apakah Muhammad Saw. dulu diutus menjadi Rasul itu karena memang beliau menyukainya? Apakah ketika beliau berperang dan menghunuskan pedang itu karena memang beliau menyukai berperang dan membunuh? Apakah ketika beliau berdakwah dilempari kotoran dan batu, serta dicaci maki itu karena memang beliau menyukai berdakwah, dilempari batu dan kotoran juga dicaci maki? Apakah ketika beliau memperistri para janda, wanita yang lemah karena beliau menyukai untuk terus menambah istri?

Apakah perjuangan Musa melawan Fir’aun itu karena memang ia menyukainya? Apakah ketika Ibrahim menentang Raja Namrud beserta Ayahnya sendiri itu karena ia menyukainya? Apakah ketika Nuh membuat kapal besar itu juga karena memang beliau menyukai pembuatan kapal serta datangnya banjir besar?

Aku tidak bermaksud sedikitpun untuk merendahkan mengenai apa saja yang telah aku sampaikan. Aku hanya ingin engkau, mohon maaf, sesekali mau untuk menapaki sebuah ruang inti yang lebih dalam tentang hakikat nilai di dalam kehidupan juga di dalam dirimu. Dengan menjawab pertanyaan, “apakah engkau melakukan sesuatu perbuatan dalam hidup ini apapun saja itu, melalui pertimbangan suka dan tidak suka, atau ada hal lain yang justru lebih mendasar daripada dua kemungkinan itu?”

Tidakkah engkau tahu bahwa melakukan sesuatu ketika hanya didasari oleh rasa suka dan senang adalah sama halnya perilakunya “bayi”.

Engkau juga pasti tahu, apapun yang dilakukan bayi ketika ia bermain, mengambil sesuatu, melakukan sesuatu, makan dan minum, bahkan menangis semata-mata hanya karena didorong oleh kesenangannya. Yang melakukan perbuatan seenaknya saja. Di mana kesemua itu ketika dilakukan sama sekali tidak perlu membutuhkan nilai kepribadian tinggi dan mutu sikap hidup yang matang. Kecuali apabila hal kesenenganmu itu harus dipersyarati oleh ilmu, bakat dan sebuah teknologi untuk membangunnya menjadi sebuah potensi hidup. Namun ketiga hal itu, tidak akan menumbuhkan kualitas mentalmu. Cukup hanya dengan pengetahuan, selera dan keterampilan untuk menuruti kesenenganmu. Akan tetapi, engkau tidak akan bisa menjadi “manusia pejuang”. Engkau tahu bukan, bahwa perjuangan kerap kali menyuruh dan menuntut manusia untuk melakukan hal yang tidak disukai dan tahan tidak melakukan sesuatu yang disenangi.

Apakah ketika engkau menjadi buruh pabrik itu karena engkau menyenangi menjadi buruh? Pada dasarnya tidak, karena memang perjuangan hidupmu menuntut engkau agar menjadi buruh untuk keberlangsungan hidup dan memenuhi kebutuhanmu. Apakah ketika engkau masuk di perguruan tinggi A dan fakultas B karena engkau menyukainya? Pada dasarnya sebagian ada yang tersesat dan terpaksa. Sebab aslinya sangat berkeinginan untuk masuk ke perguruan tinggi X dan fakultas Y, tetapi tidak diterima atau nasib berkata lain. Atau ketika engkau menjadi tukang bakso, cilok, sales maupun pedagang asongan itu apakah karena memang engkau menyukainya? Pada dasarnya juga tidak. Karena yang engkau sukai adalah menjadi konglomerat, direktur, pejabat, menteri dan hal-hal pekerjaan lain yang bisa mendatangkan uang dengan mudah tanpa perlu bersusah payah. Tetapi karena engkau tidak bisa menjangkau semua itu, akhirnya mau tidak mau engkau memilih kepayahan itu demi keberlangsungan hidupmu.

Maka, puasa hadir sebagai disiplin diri dan metode yang bertujuan melatih jiwa, pikiran dan badan manusia untuk tahan dan sanggup melakukan sesuatu yang tidak disenangi dan tidak melakukan sesuatu yang disukai. Agar ia menjadi “manusia pejuang” yang sampai pada taraf taqwa. Coba sekali lagi, pandanglah dirimu di depan cermin beserta seluruh apa yang ada di sekeliling dalam rumahmu, betapa ternyata selama ini hidupmu selalu melakukan “hari raya”. Di mana keseluruhannya hanyaberorientasi pada hal kesenangan saja.

Dalam puasa, pada dasarnya engkau tidaklah senang lapar. Engkau cenderung menyukai kenyang dan selalu ingin makan, minum serta mengumbar nafsu keinginan. Oleh karena itulah, puasa hadir untuk menjadikan manusia bermental pejuang. Sehingga engkau disuruh menahannya hingga tiba maghrib.

Alasannya karena puasa hendak mengajarkan pada manusia bahwa di dalam hidup ini ada hal nilai yang lebih inti, lebih abadi dan lebih mulia perkenaannya. Tidak sekadar berhenti pada perkenaan nilai senang tidak senang ketika melakukan sesuatu. Nilai itu bisa berupa kebaikan dan kemaslahatan. Di mana engkau tidak diperkenankan melakukan sesuatu hal, justru untuk sesuatu yang lebih besar kemanfaatannya. Atau juga mengenai kewajiban, engkau dituntut melakukan sesuatu bukan karena engkau senang dan tidak senang, tetapi karena memang engkau wajib melakukan dengan nilai kemaslahatan umat.

Juga karena engkau dan kita semua ini makhluk sosial maka daya juang kita haruslah ditumpahkan untuk kepentingan sesama umat manusia. Apalagi manusia adalah khalifatullah atau khalifah fil ardh sebagai mandataris Tuhan untuk mengelola kehidupan di bumi. Jika engkau hanya melakukan sesuatu berdasarkan suka dan tidak suka atau hanya menuruti kesenangan saja, tidak melebar ke wilayah kewajiban dan kebaikan dalam skala yang lebih besar untuk sesama ummat manusia. Maka di hadapan Allah derajatmu tidak akan memperoleh kedudukan tinggi. Sebab, khoirunnasi anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia.

Jadi, bisa disimpulkan kacamata ukuran atau paramater kedewasaan manusia dalam pandangan Islam melalui formulasi puasa, ialah ia yang melakukan sesuatu tidak berdasarkan senang dan tidak senangnya, melainkan baik tidaknya serta wajib tidaknya. Dengan kata lain, ia mampu mengendalikan rasa suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Bukan malah ia yang dikendalikan sehingga ia begitu sangat terikat dan terlalu terjebak dipermainkan oleh rasa senang dan tidak senangnya sendiri. Itulah manfaat puasa guna melatihmu untuk mampu menaklukan nafsu kesenangan dan keinginanmu yang justru tanpa engkau sadari bisa menggerogoti kualitas hidupmu. Syukur apabila engkau mampu mengharmonikan dialektika antara kesenangan, kewajiban dan kemaslahatan agar senantiasa menyatu di dalam diri serta laku hidupmu.[]

By: Ahmad M Thohari

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *