Profesi yang Tak Lekang Oleh Waktu

Sudah 32 tahun Widji berprofesi sebagai tukang becak. Pria paruh baya yang berusia 65 tahun ini, sudah menjadi tukang becak sejak tahun 1977, berawal dari susahnya mencari pekerjaan pada saat itu, dan kebutuhan hidupnya yang kian mendesak, membuat dirinya harus bekerja keras untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Manis pahit menjadi tukang becak pun sudah pernah ia rasakan, mulai dari diusir petugas, sampai dicaci maki penumpang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dirinya. Hal itu tentu saja tidak menyurutkan semangatnya dalam menjalankan profesinya sebagai tukang becak.

“Setiap hari saya mangkal disini (Tugu Kartasura), kadang di depan Stasiun Purwosari”, ujarnya. Kesehatannya yang kian menurun membuat Widji tidak bisa bekerja setiap hari. Ia hanya bisa bekerja jika kondisinya benar-benar fit.

Penghasilannya sebagai tukang becak yang tak menentu, membuat Widji harus lebih sering memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Berbagai pekerjaan pun ia lakukan untuk menambah penghasilannya, seperti menjadi kuli bangunan, kuli angkut di pasar, bahkan menjadi tukang sapu jalanan.

“Saya biasanya mulai narik dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, tapi kalau kebutuhan di rumah masih belum tercukupi, saya narik sampai malem. Sehari biasanya dapet 40 ribu, kadang cuma 10 ribu, pernah juga seharian nggak dapat penumpang sama sekali”, jelasnya.

Kehadiran ojek online pun merupakan masalah tersendiri bagi para tukang becak. Masyarakat sekarang lebih memilih menggunakan alat transportasi online daripada transportasi tradisional seperti becak. Pendapatan tukang becak pun berkurang drastis seiring menjamurnya layanan transportasi online itu. Namun, hal itu tidak dijadikan masalah bagi Widji, ia yakin bahwa rejeki sudah diatur oleh yang maha kuasa, dengan begitu, apapun pekerjaannya ia kerjakan dengan ikhlas.

                “Saya menikah tahun 1975, anak saya lima, yang tiga sudah menikah dan tinggal sama istrinya di jakarta, yang dua lagi masih sekolah STM. Istri saya di rumah buka warung makan kecil-kecilan, jualannya dikit, tapi lumayan buat nambah-nambah penghasilan.” Jelasnya.

Dirinya yang hanya mengenyam pendidikan sampai STM percaya, bahwa pendidikan sangatlah penting untuk masa depan. Ia tidak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya, ia berharap kelima anaknya menjadi orang sukses yang hidupnya tidak kekurangan. Hal itu terbukti pada ketiga anaknya yang sudah berkeluarga, mereka kini sudah mempunyai rumah sendiri, hal itu tentu membuat Widji bangga, ia tidak menyesal telah berjuang selama 32 tahun menjadi tukang becak demi menyekolahkan kelima anaknya. (Ali Arfan Adilan)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *