Penghancuran Gembong Barat

 


Desa Harjayasa adalah sebuah desa yang terletak di sebelah barat Kabupaten Gumelang. Desa tersebut merupakan desa yang makmur dan sejahtera masyarakatnya, banyak dibangun ruko-ruko, pabrik, bahkan gedung-gedung bertingkat 5. Desa ini bagai peradaban sebuah kota di tengah kabupaten, tak heran jika desa ini yang paling maju dan luas wilayahnya di Kabupaten Gumelang.

Kontras dengan kemegahan tersebut, di sebelah timur sungai desa ini terdapat Desa Wangsa Wetan yang tak enak dipandang, miskin, tandus, bahkan seakan-akan desa mati. Desa Harjayasa selalu melakukan monopoli kepada Desa Wangsa Wetan yang terkenal kuno dan kolot itu. Banyak warga Desa Wangsa Wetan yang tak mengenal teknologi.

“Jalan kayak tai begini?”, Kata Tuki seorang kepala Desa Harjayasa dengan ekspresi sombong kepada setiap warga Desa Wangsa Wetan yang berpapasan saat mengendarai mobil mewahnya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, dan setiap saat pasti kata itu dilontarkan oleh orang-orang kaya dari Desa Harjayasa. Meski begitu masih ada pemandangan Desa Wangsa Wetan yang cukup menentramkan yakni masjid desa itu yang ramai. Masjid Suta Makkah yang dibangun oleh pendahulu mereka. Demikian sebaliknya di Desa Harjayasa yang maju, jarang sekali penduduknya yang sholat berjamaat, hanya beberapa orang yang melakukan sholat di masjid desa itu.

Suatu ketika Desa Wangsa Wetan sedang melakukan pemilihan kepala desa, seorang pemuda terpilih. Hasan namanya, ia adalah pemuda yang jujur, polos, dan lugu. Tak heran bila warga desa memilihnya karena ia sejak kecil di kenal sebagai seorang anak yatim yang jujur dan pandai, Hasan juga merupakan orang yang pertama kali lulus kuliah dari desa itu. Setelah pemilihan usai Hasan pun berpidato dengan semangat, riang, dan terbakar-bakar “Insya Allah desa ini bisa kita bangun seperti yang hendak kita inginkan, dengan atas izin Allah, saudara-saudari”, katanya setelah penutupan pidatonya.

“Mana mungkin, desa mati gitu mau maju, tolol mereka”, kata Darjo seorang juragan beras kepada Tuki. “Orang goblok kayak gitu bisanya hanya imajinasi”, jawab Tuki sambil memegang rokok.

Kemudian atas usul Hasan yang lulusan ekonominya dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta, dibentuk Badan Usaha Desa dengan bentuk perseroan terbatas yang diberi nama PT. Wangsa Wetan yang modalnya didapatkan dari pinjaman bank daerah dan dari kantong masing-masing penduduk desa. Perseoran ini bergerak pada bidang kontruksi, karena sumber daya desa tidak mendukung. PT. Wangsa Wetan pun mulai dikenal di seluruh kabupaten Gumelang, karena kesuksesannya dalam membangun jalan raya di Gumelang Kota.

“Bagaimana jika uang dari hasil keuntungan kita ini sebagian digunakan untuk pembangunan desa dan sebagian lagi untuk kita sendiri?”, tanya Hasan saat rapat Desa Wangsa Wetan. Sejenak di dalam rapat itu hening, hendaknya seperti ada konflik yang akan muncul. Namun ternyata selang beberapa menit terdengar gema “Setujuuu!” yang dimulai salah satu warga dan diikuti yang lainnya.

Beberapa tahun berselang, Desa Wangsa Wetan telah berkembang menjadi pusat peradaban yang maju di Kabupaten Gumelang. Meskipun sebelumnya desa ini berada dalam kesulitan, mereka tetap membantu desa lain untuk turut berkembang. Hal penting lain dari desa ini adalah kemajuan pertaniannya yang gemilang, sehingga harga beras menjadi turun.

Hal ini tentu membuat Tuki selaku kepala Desa Harjayasa menjadi marah karena kas desa menjadi turun drastis dan para pengusaha mengeluhkan harga barang yang dijual oleh pedagang dari Desa Wangsa Wetan lebih murah dari pada pedagang dari Desa Harjayasa. “Besok saat hari pasaran di Pasar Harjayasa, kalian harus cegah pedagang dari Desa Wangsa Wetan itu masuk dengan cara apapun!”, kata Tuki kepada Suroso seorang kelapa Limas. “Siap Pak!”, sahut suroso dengan sigap.

Hari pasaran pun tiba di Pasar Harjayasa yang ramai dengan para pembeli dari berbagai desa. Truk Desa Wangsa Wetan memasuki area pasar, kemudian pakir di sebelah timur pasar. “Dengaren ada Limas di pasar”, kata Parman, sopir truk rombongan pedagang Desa Wangsa Wetan. “Mungkin patroli saja, Man”, jawab Jimin, seorang pedagang beras.

Kemudian rombongan itu turun sambil menjijing barang dagangannya dan berbaris dengan rapi bagaikan parade militer. Walaupun mereka adalah orang-orang yang mungkin dikatakan terbelakang tetapi mereka dapat terbuka dengan pendidikan yang baru diterapkan oleh Hasan.

Dengan sigap, Limas Desa Harjayasa menghampiri rombongan tersebut, “Dari desa mana?”, tanya Suroso pada Jimin, sambil memperhatikan barang dagangannya. “Dari Desa Wangsa Wetan, Pak”, jawab Jimin dengan seyuman. Setika wajah Suroso menjadi muram dan tajam tatapannya. “Mohon segera pergi dari sini, pedagang Desa Wangsa Wetan dilarang berdagang disini!”, kata Suroso dengan nada keras.

“Mana bisa gitu, Pak. Pasar ini kan sejak dulu terbuka untuk umum”, kata Jimin.

“Betul itu”, sahut Purna si pedagang ayam.

“Heh, nekat ya kalian. Usir mereka!”, perintah Suroso kepada anak buahnya. Suasana kian memanas setelah seorang jurangan beras bernama Darjo dan pedagang lainnya yang berasal dari Desa Harjayasa itu mengusir dan melempari pedagang Desa Wangsa Wetan dengan sampah dan segala bentuk limbah pasar lainnya.

“Minggat sana, jangan berdagang di sini. Bikin rugi saja!” kata Darjo sambil memegang sapu.

“Mulutmu, itu dijaga ya. Dasar edan!” kata Purna dengan marah-marah.

Suasana pun menjadi kacau, hingga terjadi bentrokan antara pedagang Desa Harjayasa dan pedagang Wangsa Wetan. Bentrokan pecah hingga malam hari, pasar yang tadinya rapi dengan barang dagangan sekarang kacau balau. Pedagang Desa Wangsa Wetan terdesak di perbatasan Desa Harjayasa, mereka tidak mempedulikan lagi barang dagangan lagi yang jatuh terinjak-injak oleh para pedagang Desa Harjayasa yang amat banyak jumlahnya.

“Pak ada pesan dari Jimin, untuk mengirim Limas dan Karang taruna ke perbatasan desa, karena warga Desa Harjayasa bentrok dengan pedagang dari warga kita, Pak” kata Haryo, sekretaris desa, kepada Hasan dengan tergagap.

“Apa? Baik segera kirim Limas dan karang taruna kita. Segera bentuk relawan perdamaian desa”, jawab Hasan dengan terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan cangkir kopi ke kaki Haryo. “Waduh panas, panas!”, sambil berlari mencari air keluar dan segera mengumukan kepada Limas dan karang taruna.

“Mari kita selamatkan warga kita di perbatasan barat desa, segera!”, kata Haryo kepada seluruh relawan perdamaian yang tediri dari Limas dan Karang taruna. Supri, seorang pensiunan mantan TNI itu pun menjadi pemimpin relawan perdamaian. Mereka segera bergegas menuju batas desa yang berada 2 km di sebelah barat desa.

Nampak dari jauh di depan gapura kecil itu ban-ban bekas yang dibakar di tengah jalan yang menerangi gelapnya jalan perkebunan singkong yang dijaga beberapa limas Desa Harjayasa. “Cepat temui mereka, Aji!” perintah Supri kepada salah satu anak buahnya yang bernama Aji, “Siap Pak!”, jawab Aji.

Kemudian Aji berlari memhampiri mereka untuk meminta izin menyelamatkan pedagang Desa Wangsa Wetan yang masih terdesak di perbatasan desa. “Pak boleh minta izin masuk desa untuk menyelamatkan warga kami dari Desa Wangsa Wetan?” tanya Aji dengan senyuman. “Goblok!”, hina Suroso kepada Aji sambil menamparnya. Aji pun langsung jatuh tersungkur ke tanah.

“Apa?!!” kata Supri dengan heran sambil mendatangi Suroso dan diikuti oleh beberapa orang untuk menyelamatkan Aji yang sendang tergeletak pingsan, “Mau apa kalian, seenaknya sendiri?”, kata Supri kepada Suroso sambil menunjuk-nunjuk Suroso.

Hujan pun turun deras disertai dengan kilatan petir namun tak bisa meredam hawa yang panas di perbatasan desa, “Mau kalian minggat dan binasa?”, kata Suroso sambil mendorong Supri yang tua itu.

“Heh, apa-apan ini!” kata Rendi dan kemudian meninju Suroso hingga pingsan. Kemudian anak buahnya pun lari ke dalam desa yang jaraknya 3 km dari Gapura Wangsa Wetan.

Supri dan anak buahnya pun membawa Suroso ke Balai Desa Wangsa Wetan untuk diserahkan ke polisi. Supri pun membuat siasat untuk menghalau serangan warga Desa Harjayasa. Angsa pun dijadikan pasukan oleh Supri, ide gila ini muncul karena Desa Wangsa Wetan kekurangan anggota relawan karena anggotanya hanya berjumlah 15 orang saja. Sedangkan Desa Harjayasa memiliki 150 orang anggota limas.

“Semoga hal ini cepat selesai pak Supri!”, kata Hasan kepada Supri. “Amin, Hasan”, jawab supri. “Baik kalau begitu saya akan telepon polisi”, kata Hasan. Setelah itu atas saran polisi warga Desa Wangsa Wetan harus mengepung Desa Harjayasa untuk sementara waktu untuk menangkap Tuki, Kepala Desa Harjayasa yang menjadi otak dari bentrokan yang terjadi di pasar saat pagi tadi. Hal ini dikarenakan kondisi hujan yang deras menyebabkan mobil polisi mogok dan personel polisi yang tidak memadai yaitu hanya terdapat 4 orang saja.

Ditengah hujan yang deras itu warga yang dipimpin oleh Hasan mulai memasuki Desa Harjayasa untuk menyelamatkan warganya yang terjebak di kebun jagung di sebelah barat desa.

“Serang!”, teriak Suprim. Warga pun menyerang pos yang di jaga oleh Limas yang menyebalkan lalu membakarnya. Limas tersebut juga ditangkap.

Perlawanan sengitpun terjadi didepan balai Desa Harjayasa yang megah.

“Peringatan dari polisi, bagi warga Desa Harjayasa untuk menyerah kan kepala desa bernama Tuki,” kata Hasan kepada warga Harjayasa.

“Bohong!”, teriak Tuki sambil melemparkan sebuah batu bata ke kepala Hasan akan tetapi malah mengenai Haryo.

“Aduh sirahku!” teriak Haryo sambil kesakitan memegangi kepalanya, kemudian pingsan dan ditangkap oleh Supri.

Supri memaksakan untuk masuk ke dalam balai desa dengan tabung gas melon yang bocor, kemudian Supri keluar balai desa dengan berlari dan melemparkan korek ke pintu.

“Awas, dia tak waras!”, teriak Darjo sambil melompat dari atas tingkat balai desa dan diikuti oleh warga lainnya.

Duar! Duar! Duar! Seketika di tengah hujan itu, kaca pecah, rusak dan terbakar. Pun begitu Warga Desa Harjayasa masih memberikan perlawanan yang sengit kepada warga Desa Wangsa Wetan. Hal ini menyebabkan Supri mengeluarkan pasukan angsa yang ganas milik Pak Sidik.

“Apakah ini lelucon?”, kata Tuki kepada warga Desa Harjayasa yang masih mendukungnya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Namun seketika angsa itu terbang dan menggigit mulut Tuki. Tuki pun langsung diroyok oleh angsa pak Sidik yang berjumlah 500 ekor.

Warga Desa Harjayasa yang masih mendukung Tuki lari tunggang langgang ke penjuru desa karena takut dikejar oleh angsa Pak Sidik. Pak Sidik sendiri kemudian yang menyelamatkan Tuki dari hajaran angsa, kemudian ditangkap dan dibawah ke balai Desa Wangsa Wetan untuk kemudian disekarahkan ke polisi. Pada pukul empat pagi pun masih ada perlawanan kecil di Desa Harjayasa yang akhirnya padam setelah mendapatkaan imbauan dari kantor polisi di Gumelang Kota. Warga Desa Wangsa Wetan pun kembali ke desanya dan warga Desa Harjayasa kembali ke rumah masing-masing akan tetapi ada yang sebagian ikut dengan warga Desa Wangsa Wetan untuk mengetahui kebenaran apa sedang terjadi.

Pada pukul enam pagi rombongan polisi datang, Tuki akhirnya diserah kepada polisi karena ia adalah dalang dibalik bentrokan yang terjadi di pasar dan eksekutornya ialah Suroso. Akan tetapi bertapa mengejutkannya seluruh warga desa yang menyaksikan, bahwa Tuki bukan hanya dalang akan tetapi ia adalah gembong mafia penimbunan barang serta narkotika.

Supri pun di beri hormat oleh seorang polisi yang ternyata ia adalah anak buah Supri. “Lho Pak Supri?” kata Hasan dengan terkejut. “Oh, sebenarnya saya adalah kepala polisi Kabupaten Gumelang yang menyamar untuk menangkap Tuki si penjahat kelas antar kecamatan yang meresahkan pemerintah Kabupaten Gumelang, Hasan” jawab Supri sambil naik truk tahanan. “Mari Hasan, Pak, Bu. Terima kasih atas kerjasamanya” , kata Supri sambil melambaikan di atas truk yang sedang berjalan meninggalkan Hasan dan penduduk Desa Wangsa Wetan yang masih terkejut untuk menuju ke Gumelang Kota.

Penulis : Rois Heldan Argayudha (Kontributor)

Editor : Elsa Lailatul

Redpel Online : Nurul Fatimah

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *