Menyoal Beasiswa Aktivis dan Akademis

Begitu banyak pertanyaan yang timbul saat mendengar beasiswa. Setiap fakultas membuka pendaftaran beasiswa, batas koutanya hanya sedikit tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang ada. Mencari beasiswa seperti rebutan ikan di laut. Diibaratkan siapa yang memakai umpan enak, dapet ikan banyak. Sedangkan yang tidak punya uang untuk beli umpan enak, apa akan dapat ikan banyak?

Beasiswa LPDP untuk jenjang pasca sarjana ke luar negeri diharuskan bisa Bahasa Inggris. Tak hanya dibutuhkan prestasi yang tinggi namun harus bisa menguasai bahasanya. Terus apa akan gugur yang tak bisa berbahasa Inggris untuk mendapat beasiswa LPDP? IPK juga menentukan layakkah mahasiswa tersebut mendapat Beasiswa. Sebenarnya begitu banyak polemik yang terjadi dalam jumlah beasiswa yang minim dibanding jumlah mahasiswa yang ada.

Tidak hanya soal itu, namun yang diterima dalam beasiswa bisa hanya orang-orang itu saja. Salah satu esai dari Albi Rangga dari Jurusan Pendidikan dan Kewarganegaraan UMS, mengatakan bahwa beasiswa untuk menciptakan dikotomi mahasiswa, yaitu antara mahasiswa akademis dan mahasiswa aktivis. Harusnya terintegrasi sesuai dengan hakikat fungsinya sebagai alat pengontrol kehidupan  bermasyarakat, agen politik yang berpihak kepada masyarakat, serta agen yang mampu menciptakan formulasi pembaruan secara komprehensif bagi masyarakat.

Memiliki strategi dan taktik dalam proses pembelajaran mungkin juga bisa membantu meningkatkan kualitas akademisnya bagi mahasiswa yang tak aktif. Namun dalam keinginan melanjutkan pasca sarjana harus butuh perjuangan tidak hanya sekedar keinginan semata. Kita tidak hanya mengandalkan ilmu atau pelajaran yang disampaikan oleh dosen namun lingkungan dan kebiasaan juga berpengaruh besar untuk meningkatkan mutu saing.

Apalagi saat ingin melanjutkan ke pasca sarjana luar negeri, harus bisa menguasai betul Bahasa Inggris. Dan itu tidak hanya belajar Bahasa Inggris, membuka kamus tapi harus selalu dipraktekan dalam kehidupan nyata. Namun dalam prakteknya tidak mungkin kita dalam berkomunikasi dengan teman, keluarga atau di lingkungan yang mayoritas berbahasa Jawa atau dengan logatnya masing-masing. Pasti sulit untuk bisa melakukan hal seperti itu di lingkungan yang tidak mendukung.

Dalam sejarah pendiri bangsa yang disebutkan dalam esai Albi Rangga, peran para pendiri bangsa kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Mohammad Hatta merupakan Sarjana ekonomi dari Economische Hogeschool yang sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda. Tan Malaka merupakan lulusan Rijkskweekschool di Belanda. Kesuksesan para pendiri bangsa ini semua tak lantas dari beasiswa.

Beasiswa ini kebanyakan terdapat dari aktivis dan akademis, sedangkan yang tidak menyangkup semuanya. Dia harus bisa membayar semua administrasinya sendiri. Mungkin jika masuk dalam universitas negeri masih bisa disubsidi oleh pemerintah. namun jika sebaliknya mau tidak mau harus bisa menanggung biaya tanpa disubsidi. Mahasiswa harus bisa dituntut untuk aktif dalam organisasi maupun akademisnya untuk menunjang keringanan biaya yang ada.

Sebenarnya harus memiliki tekat dan kerja keras jika ingin meraih sebuah impian. Di dunia ini tidak ada yang mustahil, dengan niat pasti ada jalan untuk meuju kesuksesan. Jangan berpikir kita tidak mampu, tidak akan bisa. Yakin kalau kita mampu mencapai yang yang diinginkan. Kita harus berusaha, berdoa, dan terakhir tawakal, insyaallah akan tercapai keinginannya. Semangat! (Rizki Kantika)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *