Menjaga Kultur Nusantara dengan Seni Gerak

Potret latihan tari di depan Gedung Graha IAIN Surakarta (M.Hermawan/LPM Locus)

Warna jingga yang menghiasi langit senja kala itu, menemani dua insan penyandang identitas wartawan menemui sekelompok mahasiswa yang aktif berkesenian dengan lenggok tubuhnya. Kelompok ini dikenal dengan UKM Sentra.

Kehadiran mereka telah ditunggu oleh Fitri Anekawati dan kawan – kawan UKM Sentra (19/03)  yang akan melaksanakan latihan rutinya di depan Gedung Graha IAIN Surakarta, tempat dimana mereka biasa bergumul dengan melodi khas pengiring tari.

Sembari memantau latihan, Fitri mendeskripsikan Sentra sebagai wadah mahasiswa untuk berkesenian tari gaya Surakarta. Bermula dari inisiatif mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan seni tari kemudian membentuk komunitas sampai memperoleh legalitas sebagai UKM sementara di tahun 2018 dan ditetapkan menjadi UKM divinitif di tahun 2019.

Berkat latar belakang pendidikan seni yang diperoleh di sekolah tingkat SMA/K membekali beberapa anggota komunitas ini maka perkembanganya mulai pesat. Kemudian, atas dukungan ORMAWA di kampus akhirnya terbentuklah kegiatan mahasiswa seni tari.

Berangkat dari kampus IAIN Surakarta, maka sudah seharusnya orang Surakarta mengetahui budayanya. Sebenarnya religi dan kesenian tidak terpisahkan, mereka adalah satu kesatuan seperti yang tertera dalam teori kebudayaan Kluckon, dimana ia membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh unsur diantaranya adalah religi dan kesenian.

“Jadi  kalau orang bilang agama dan budaya itu terpisah, itu salah. Mereka itu menyatu, budaya juga mempelajarai Gustinya, adatnya juga dipelajari dan semua menuju ke Tuhan. Memayu Hayuning Bawono kepada Tuhan, manusia dan sesama makhluk hidup” tutur Fitri saat diwawancarai Locus (19/03).

Jika ditelaah lebih dalam, visualisasi dari seni tari, wayang , gamelan sebenarnya merupakan suatu wujud dari doa. Segala sesuatu itu memiliki makna dan doa secara umum itu apalagi dalam masyarakat yang mayoritas muslim, doa identik dengan bahasa arab. Lalu seni bisa menyampaikan doa dengan caranya sendiri.

Dari sinilah seni bisa melebur dengan ajaran agama, tetapi tidak melunturkan budaya aslinya. Misalnya Bedoyo Ketawang gaya Surakarta berjumlah Sembilan. Ada sesuatu yang disimbolkan melaluinya dan banyak hal-hal tertentu yang dimunculkan pada waktu yang tidak sembarangan, karena ada maksud dibaliknya dan sebagai bentuk penghormatan kepada yang lainya juga.

Sejalan dengan sejarahnya, UKM Sentra memiliki tujuan untuk mengenalkan budaya kepada mahasiswa di kampus dengan basic  religi. Fitri beranggapan bahwa jika seseorang paham tentang kebudayaan, maka ia paham tentang adat, sopan santunnya dan tidak lepas juga dari religi. Tidak hanya teori kuliah saja yang didapat namun juga pengetahuan akan budaya bisa diperoleh.

Dalam proses pengenalan budaya di lingkup kampus yang berbasis agama, kawan-kawan UKM Sentra berusaha menata ulang busana yang disajikan supaya tidak keluar dari budaya jawa dan tidak melenceng juga dari ajaran agama. Lalu ini bisa menjadi insight baru bagi mahasiswa di IAIN bahwa ternyata ada kesenian tari tradisional tetapi layak ditonton untuk kalangan muslim.

Namun juga ada beberapa tarian yang tidak bisa sembarangan diubah busananya seperti misalnya tarian dengan basis sanggul dan kemben, karena UKM Sentra juga menghargai seniman-seniman lokal yang ada di Surakarta, sebab busana tarian juga sebuah bentuk karya, tetapi kawan – kawan UKM Sentra memilih tarian yang relevan dengan Islam dan Jawa agar mempermudah menyesuaikan pada mahasiswa.

Bicara mengenai perkembangan budaya di zaman modern saat ini, sebenarnya bagus karena semua orang bisa menikmati kesenian tari secara bebas dibanding dahulu orang yang boleh menari adalah orang dengan garis keturunan keraton saja.  Sekarang semua orang bisa masuk menikmati tari, tetapi memang hanya tari kreasi/kontemporer saja. Karena ada beberapa tarian sakral tertentu yang hanya orang – orang terpilih diijinkan menari, seperti di keraton Mangkunegaran Surakarta. Sebab hanya Sultan yang berhak memilih siapa yang menjadi penari di keraton.

Karena pada dasarnya UKM Sentra hanya penikmat dan bertujuan untuk mengembangkan kreasi tari tradisional maka tidak sembarangan tari ditampilkan. Output dari pembelajaran tari mereka bisa merasakan keseimbangan pembentukan mental dan belajar menghargai  satu sama lain.

Selama UKM Sentra menjalani kegiatan kesenianya, mereka menorehkan kiprahnya di berbagai panggung pertunjukkan mulai dari pentas di dalam kampus maupun pentas di luar daerah. Selain itu kerja sama antara UKM dan Sanggar tari juga mulai terjalin.

Lanjut Fitri menerangkan bahwa untuk menjaga eksistensi dari budaya lokal, khususnya Surakarta maka UKM Sentra tidak terlepas dari asalnya dan perlahan merambah kebudayaan nusantara yang lain. Mengenai tantangan modernisasi yang dialami anak muda saat ini agar menjaga kultur lokal yang ada, Fitri menambahkan kalau sebenarnya budaya Indonesia itu juga diagungkan oleh Negara lain.

Menyikapi tantangan ini kawan – kawan UKM Sentra membuat combination play dimana mereka mengkreasikan tarian tradisional dan menggunakan media sosial sebagai ajang promosi kebudayaan lokal namun masih dalam koridor yang sewajarnya.

Kalau bicara mengenai sikap anak muda yang terkesan acuh dengan tradisinya, tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya mereka hanya belum mengenal budayanya sendiri, kebanyakan orang melihat budaya lokal hanya di satu sisi saja, toh orang luar juga sering menggunakan budaya kita untuk mencari masa, seperti makan sate, ngomong dengan bahasa jawa dan lain- lain, itu sebenarnya cara mereka juga untuk memikat penonton dari Indonesia.

Maka dari itu UKM Sentra mulai menanamkan kesadaran pada setiap anggotanya agar mencintai budaya lokal dan cinta pada tradisi nusantara. Sebab dari langkah kecil itu mereka berharap agar budaya lokal tidak tergerus oleh peradaban modern.

“Anak muda harus sadar budaya, harus sadar sama diri sendiri cintai budaya sendiri la wung kita aja udah hebat kok sebelum Negara – Negara maju masuk ke sini, apalagi soal budaya. Kita pasti bisa!” simpulnya.

Reporter : Aqila Ahya Mumtaza, M.Hermawan

Penulis : M.Hermawan

Editor   : Elsa Lailatul M.

Redpel  : Nurul F.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *