Menatap “Wajah” kehidupan (Corona Part 4)

Apa yang sedang dicatat oleh Jarkembloh didiskusi terakhir, memang belum banyak temannya yang tahu, termasuk juga Jarkodil sendiri sebagai sesepuhnya KPMb. Jarkodil ini yang banyak memiliki “ilmu-ilmu kasepuhan” karena memang dia telah banyak makan asam garam, sudah banyak melewati lara-lapane lelakuning urip.

“Apa pendapat kalian, bahwa sebagian ulama’ ada yang mengatakan coronavirus ini penyebarannya ternyata adalah bagian dari rekayasa rahasia kelompok besar yang ada di dunia?”

“Maksudnya, saya ndak paham Dil?” tanya Jarkembung.

“Makanya agak sedikit cerdas gitu lo, Mbung!” hardik Jarkembloh.

“Kok kamu malah nyalahin saya, wong saya emang ndak ngerti kok.” Jarkembung membantah.

“Gini lo, yang dimaksud Jarkodil itu…” Jarkasin mencoba urun omongan, “kemarin saya melihat video atau tepatnya diperlihatkan sebuah cuplikan video, tentang dialog seorang ulama’ ternama di luar sana dengan Jin. Nah, Jin itu masuk ke salah satu pasien yang terkena virus covid-19 itu. Kemudian diruqyah, dijadikan mediasi untuk diintrogasi.”

“Terus apa hubungannya dengan rahasia kelompok besar dunia itu?”

Mereka saling berpandangan menatap satu sama lain. Ada semacam asmotfer batin yang agak dingin hawanya. Atau mungkin malah rasanya sangat nggrigisi jiwa-jiwa para Mbambungini.

”Begini…” Jarkodil mencoba menjelaskan, “Jin itu adalah alat yang digunakan oleh kelompok rahasia tersebut. Yang mana dari keterangan yang saya dapat, Jin itu membantu proses penyebaran penularan virus lewat gelombang udara. Golongan yang dimaksud adalah, bernama Fremansory, ada juga yang mengatakan Illuminati. Atau bahkan kedua-duanya. Sebab cikal bakalnya juga sama saja. Mereka adalah golongan yang mempunyai misi besar untuk keberlangsungan kehidupan di dunia. Mereka ingin menguasai dunia. Dan karena mungkin mereka ini kelompok rahasia maka pergerakan mereka juga sangat rahasia. Apa yang mereka lakukan pastilah dengan pertimbangan dan proses yang sangat tidak kentara…”

“Katanya virus corona itu penularannya hanya ketika kita melakukan kontak fisik saja. Tidak bisa melalui gelombang udara.” Memotong Jarkembung.

“Sebentar to Mbung, jangan memotong! Jarkodil tadi belum selesai bicara.”

Jarkodil meneruskan perkataannya yang terjeda, “mereka mengatakan bahwa jika ada 1000 orang hidup di dunia, hanya akan disisakan 500 saja yang berhak hidup. Yang lainnya dimatikan.”

”Apa mereka punya saham atas dunia ini dan mati-hidupnya manusia?”

“Maka dari itu, mereka adalah golongan rahasia yang gerakannya juga sangat rahasia pula. Mereka bisa memasuki dimensi lain, sehingga mereka mampu untuk meminta bantuan Jin sebagai mandataris pelaksana otoritasnya. Golongan itu sebenarnya sudah ada sejak abad 14 dulu atau setelah banjir darah pasca perang salib dulu, yang bisa jadi salah satu pelopor gerakan Renaissance (masa pencerahan). Di mana saat itu agama sudah mulai tereduksi, dan mereka sudah tidak mempercayai lagi keberadaan Tuhan, apalgi peran-Nya. Mereka ini juga telah banyak melakukan konspirasi untuk keberlangsungan misinya tersebut. Sejak dulu hingga sekarang… Mereka itulah yang seakan-akan menggerakkan kehidupan di dunia ini. Tetapi mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu. Dan akhirnya juga tergelincir…”

 “Tetapi katanya, Jin penyebar tersebut tidak bisa menularkan si virus kepada orang-orang muslim yang taat akan perintah Tuhannya, dan yang begitu dekat dengan kasih sayang-Nya.” Jarkasin mencoba masuk, “sebab orang muslim yang taat tersebut memancarkan cahaya yang tak dapat ditembus oleh Jin tersebut. Sebab juga, orang muslim tersebut dilindungi langsung oleh pancaran cahaya Tuhan.”

“Jadi kembali lagi bahwa intinya adalah kadar ketaqwaan dan keimanan kita itu lah yang menjadi benteng kokoh yang tidak bisa ditembus oleh bahaya macam apapun, begitu?”

“Ya tentu, kita sebagai orang muslim tentu sangat mempercayai hal itu. Makanya kita dianjurkan banyak melakukan banyak wirid dan semacam upaya “vertikal-keilahian” lainnya.”

“Tetapi apakah itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat tidak rasional dan tidak ilmiah, jika penyebarannya bisa dibawa dan direkayasa oleh Jin?”

“Ya memang tidak rasional menurut akal pikiran kita… Bahkan juga katanya, Jin pun juga tidak bisa merdeka seratus persen dari bahaya virus corona itu. Maksudnya Jin pun ada yang terkena virus covid-19 juga…”

“Loh loh loh, ternyata Jin juga bisa terkena penyakitnya manusia tho…” Jarkembung terheran-heran.

“Terlepas dari hal itu semua… Kalian mau percaya atau tidak, silahkan, keputusan dan pertanggungjawaban terletak dan hanya ada di tangan kalian masing-masing sendirilah yang berhak secara otentik mengambil posisi apa dan bagaimana. Sebab hanya kalian sendirilah kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban atas keputusan yang telah kalian ambil.”

Jarkodil mencoba menguraikan sesuatu, “regulasi sesuatu hal tentu hanya berada dalam kemutlakan ‘innallaHa ‘ala kulli syaiin Qadir’ Allah sebagai pemilik segala apa yang ada di bumi dan di langit. Tentu segala sesuatu juga tidak akan mungkin terjadi tanpa ‘bi-idzini’-Nya Allah.”

Covid-19, apabila dimaknai sebagai azab, ia telah menghancurkan seluruh jasadiah dan segala model kehidupan, serta sistem perekonomian dunia. Sedangkan sebagai rahmat, coronavirus dapat mendekatkan jiwa dan hati setiap manusia kepada Tuhan, kecuali mereka yang memang dulunya merasa mencipta dirinya sendiri, membuat bumi dan menyusun adanya alam semesta beserta tata letaknya, sehingga mereka tidak percaya dan tidak memiliki hubungan atau kesadaran akan adanya Tuhan.

Dan apabila suatu kerugian dan kerusakan atau kematian di dunia ini terjadi, coronavirus tidak bisa dipersalahakan atau dijadikan sebagai pihak yang bersalah. Dan pasti tidak akan diganjar dosa sedikit apa pun. Ia bukan makhluk yang mempunyai pikiran dan hati, sehingga punya keinginan dan kemauan untuk berniat melakukan sesuatu, membuat kebaikan atau merancang kejahatan, bahkan mendukung perbuatan atau melawan atas kehidupan yang sedang dijalankan ummat manusia. Covid-19 bukan seperti halnya Jin dan Manusia, tidak juga bagian dari mereka. Yang mana kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perilaku dan perbuatannya di hadapan Forum Hisab Allah.

Corona ini permunculannya hanya dipancing, dipicu, dirangsang dan direkayasa oleh manusia itu sendiri. Melalui budaya yang diberlakukan manusia, melalui keangkuhan ilmunya dan pengetahuannya yang congkak juga oleh peradabannya yang penuh dengan kesembronoan.

Ummat manusia menyelenggarakan sejarah peradabannya di abad 21 dengan karakter peradabannya Iblis, keilmuannya Dajjal dan kebudayaannya Ya’juj dan Ma’juj.

“Dan hari-hari ini, atau akhir-akhir hari-hari ini. Allah kayaknya juga telah mendukung pengabulan itu dengan memuncaki gerak perubahan yang memang sudah dilakukan oleh manusia. Tatkala hari-hari ini semua penduduk bumi sedang mengalami kecemasan, panik dan paranoid oleh wabah coronavirus, tak ada seorang pun yang bertanya: ‘Apakah kita selama ini telah salah sebagai manusia? Apakah yang selama ini yang kita jalankan sudah sesuai dengan kemanusian kita? Apakah telah terjadi dismanajemen dalam pola perilaku kehidupan kita? Apa dosa dan kesalahan kita selama ini? Apa pengingkaran kita terhadap kesogyaan dan nilai-nilai kehidupan?’. Tidak ada berita online maupun offline yang mengindikasikan bahwa manusia berada dalam posisi salah dan merasa bersalah. Pemimpin Dunia, Negara atau bahkan Agama, tidak ada yang tampak menyesali atas terjadinya balasan Tuhan ini terhadap perilaku buruknya manusia. Presiden, para menteri, tokoh intelektual, cendikiawan, budayan dan apa pun jenis tokoh lainnya tidak ada yang mengajak ummat manusia bercermin menatap wajahnya sendiri dan mencari letak kesalahannya.”

Ternyata air bah terus saja mengalir.

“Kita ini tidak dewasa. Kita tidak sampai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain dan beribu probabilitas lain terhadap apa saja kehendak-Nya. Kita hanya mau berpikir berdasar apa saja yang menyangkut kepentingan, kebutuhan dan keuntungan kita sendiri. Kita tidak mampu berpikir siklikal, dialektikal dan menyeluruh terhadap apa saja kejadian di bumi. Kita melihat sesuatu hanya dengan mata pandang kepentingan saja, kemudian ketika melihat sesuatu yang bertentangan dengan kepentingan kita, lantas kita mengklaim bahwa itu adalah sebuah keburukan, musibah dan tidak semestinya kita terima. Padahal Allah punya regulasi lain dan tahu mana yang terbaik bagi Hamba-Nya. Kenapa kita tidak memakai sudut pandang kepentingan Allah dan kehendak-Nya, terhadap apa saja yang menimpa kita. Allah bersifat “Al-Mudzil” bukan berarti Allah semena-mena terhadap makhluk dan terkesan “jahat”. Semua yang telah Allah lakukan dan kehendaki adalah demi kebaikan makhluk-Nya. Allah tidak punya kepentingan apa-apa. Manusia-lah yang punya banyak kepentingan ini dan itu.”

Air bah tidak semakin surut, tetapi justru semakin menjadi-jadi derasnya.

“Kalau Allah menjamin rezeki dan kesembuhan, maka Ia juga berhak untuk menimpakan penyakit. Bahkan kalau pun Ia berkenan ‘menghidupka’, berarti Ia berhak dan siap ‘mematikan’. Allah mengetahui segala apa yang ada di bumi dan langit, di alam nyata dan ghaib. Manusia tidak usah sok-sok-an menyembunyikan kekufurannya, menyatakan perihal pembakangannya untuk sekadar ‘konangan’ oleh Allah. Sekiranya juga tidak perlu melawan Allah yang ‘la tudrikuHul abshar wa Huwa yudrikul abshar wa Huwal Lathiful Khobir’. Kalau ternyata dan terbukti sekadar terhadap virus corona ‘copyright’-Nya saja manusia tidak sanggup melihat dengan mata kepalanya.”

Mereka semua yang mendengarkan sudah basah kuyup oleh “cipratan air” dari mulut Jarkodil. Tetapi, mereka masih diam di tempat, menanti datangnya air hujan yang barang kali turun lewat mendungnya hati dan pikirannya Jarkodil.

“Tetapi kita tidak perlu takut dengan virus corona itu, yang harus kita takuti adalah penciptanya, yakni, Allah. Tetapi juga, tidak lantas kita bersikap sembrono, kita harus tetap memelihara kewaspadaan, ketaqwaan dan tetap tawakkal ‘alallah. Coronavirus mungkin hanyalah sekadar indzar atau peringatan, agar kita tetap ‘eling lan waspodo’. Sebagai mana firman-Nya yang berbunyi, ‘ya ayyuhal muddatstsir, qum fa-andzir!. Atau ‘ya ayyuhal muzzammil, qumillaila illa qalila’. Wahai orang-orang yang merasa nyaman dan aman dengan berselimut kepintaran dan keangkuhannya sendiri, bangunlah, bangkitlah dan berdirilah kemudian peringatkan dirimu sendiri. Serta bangunlah sejenak di tengah malam kantuk. Duduklah. Bersemedilah. Merenunglah. Bertafakkurlah. Dengan khusyu’ dan tuma’ninah, tatap wajah kehidupanmu selama ini, temukanlah kesembronoanmu, kelalaianmu, kesalahannmu dan juga kebodohanmu.”[]

_Corona, 4

_Ahmad Miftahudin Thohari

.Ngawi, 22 Maret 2020

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *