Mahasiswa Rakyat dan Mahasiswa Pemerintah


Tak beranjak dari topik yang kesannya membosankan, menyoal mahasiswa dengan segala hiruk pikuknya. Mulai dari aktivitasnya sebagai pribadi terdidik hingga kontribusinya sebagaimana kodrat sebagai mahkluk sosial. Semakin kemari masalah super mainstream ini menjadi langganan bahan dialog di kalangan mahasiswa.
Kepekaan sosial adalah salah satu dari unsur mainstream tersebut. Bosan rasanya mendengar dan membaca semua hal yang seolah-olah mendiskreditkan status pelajar tinggi seperti mahasiswa. Yang lebih menjengkelkan lagi, ketika yang tidak merasa seperti itu kemudian juga disebut menjadi bagian kematian suara dan kreativitas, karena yang disebut bukanlah berdasar pada identitas personal seperti nama bawaan lahir, melainkan satu istilah “mahasiswa” yang kesannyaberwujud esa. Walau ratusan bahkan ribuan perguruan tinggi berdiri di Bumi Indonesia, jutaan anak muda yang sedang berjihad ilmu di dalamnya tetaplah dipanggil dengan sematan tunggal. Jadi, tidak perlu heran jika satu orang saja tersandung hal yang kesannya jelek, maka imbasnya hampir merata melalui sematan yang disandang oleh jutaan lainnya, lagi dan lagi “mahasiswa”.
Kevakuman mahasiswa zaman now ini memang benar adanya, nyata terjadi dan sangat dirasa oleh orang lain bahkan oleh mahasiswa itu sendiri. Efek-efek internal maupun eksternal memiliki andil cukup jelas dari sederet faktor penghambat mahasiswa untuk bangun menjadi aktor penting di beberapa pemecahan masalah. Seperti halnya peristiwa bersejarah reformasi 98.
Ekspetasi besar dari masyarakat kepada kaum mudanya ternyata harus “bertepuk sebelah tangan”. Kesenjangan ekspetasi dan realita begitu nampak dalam dinamika mahasiswa hari ini. Situasi carut marut pemerintahan yang tak kunjung usai, menjadikan masyarakat berpangku pada kritisme kaum muda berpendidikan. Kembali lagi, karena ekspetasi tinggi, maka segala tindakan mahasiswa sebagai wujud perlawanan terasa mentah di mata kalangan yang dibelanya mati-matian, rakyat.
Mahasiswa Ambil Peran
Cukup, tidak usah terlampau muluk-muluk nanti malah nyampluk. Sebagai analogi riil, mari kita tengok mahasiswa di dalam sistem miniatur negara yaitu kampus. Seberapa andilkah mereka dalam agenda-agenda organisasi (pemerintah) ? serta antusiaskah mereka dalam kegiatan organisasi yang kadang kala mereka kritik habis-habisan ? kemudian dari paradigma yang lain, seberapa gregetkah otak-otak organisatoris dalam meng-cover seluruh atau paling tidak sebagian keinginan yang bersifat kebutuhan dari rakyatnya ?
Idealnya, sebagai pihak yang mempunyai otoritas luas dalam melayani mahasiswa, organisasi harus selalu aktif-reformatif dalam menyusun segala agenda yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Pun sebaliknya, sebagai pihak yang ingin dilayani, mahasiswa juga harus membuka diri dari dogma apatisme yang mengurung langkah. Selalu berhasrat laksana orang yang haus akan pengetahuan dan pengalaman baru. Salah satu perwujudan konkretnya, mahasiswa harus mempunyai sifat ganda. Di waktu tertentu, mereka akan meraung menuntut wujud visi organisasi yang berdiri atas nama perwakilan mahasiswa. Namun di sisi lain, mereka harus juga partisipatif dalam kegiatan-kegiatan dari organisasi itu. Jadi, antara teriakan kritik dan tindakan partisipatif harus seimbang pula.
Akan sangat lucu manakala pemerintah dituntut untuk menghidupi rakyat, sedangkan rakyatnya justru tertidur ketika sumber penghidupan itu disebar di mana-mana. Ladang ilmu dan pengetahuan gencar diupayakan dalam rangka pengembangan mahasiswa, namun yang digadang untuk berkembang malah enggan mengikutinya. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri, namun tetap berdiri dalam sifat kritikus tingkat tinggi.
Tamparan pedih bagi mahasiswa sebagai rakyat, dan mahasiswa di balik organisasi sebagai pemerintah. Untuk sama-sama menyongsong perubahan dari titik yang terendah, sebelum nanti keluar berhadapan dengan situasi kondisi yang dimungkinkan jauh lebih keras dibandingkan hanya sekadar tataran kampus.
Mari Bersinergi …!!!
Oleh : Indarka Putra Pratama

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *