LELAYU

Hampir dua tahun kota ini menjadi kota mati. Bukan karena rumah- rumah di kota ini tak lagi berpenghuni tetapi segala aktivitas di luar rumah mulai dibatasi. Tak peduli itu pekerja kantoran, buruh pabrik, penjual sayur keliling, tukang bubur keliling, tukang cukur rambut, pedagang di tempat wisata, pedagang pinggir jalan, anak sekolahan, atau pekerja seni tak boleh beraktivitas terlalu lama di luar atau mereka akan jadi sorotan, mungkin juga mendapat kecaman, bahkan bisa jadi sasaran amukan. Ahhhh membayangkannya saja sudah membikin bulu kuduk begidik ngeri.

Maraknya kasus positif corona, membludaknya rumah sakit, melonjaknya angka kematian, tersebar luas di media sosial ditambah kegaduhan adu argumentasi semakin meruwetkan pikiran. Tadinya salah satu tempat pelarian dari huru-hara dunia nyata adalah media sosial, tetapi informasi yang disajikan justru semakin mencabik-cabik ulu hati. Alhasil seseorang akan merasa muak jika dihadapkan dengan situasi seperti ini secara terus menerus.

Gadis berambut hitam sepanjang bahu yang masih membaringkan tubuhnya di atas kasur, sedang merasakan kemuakan itu. Dinda mematikan ponselnya sambil mendengus kesal setelah membaca berita pagi ini. Pembatasan kegiatan masyarakat akan diperpanjang selama enam minggu. Padahal beberapa hari yang lalu ia telah membuat janji dengan teman-temannya untuk mengunjungi Yogyakarta, dengan adanya berita itu otomatis rencana liburan akan gagal lagi. Ponsel yang masih digenggam, ia letakkan di atas meja dekat kasur, lalu selimut yang masih menutupi kaki dan perut ia tarik ke atas agar menutupi seluruh tubuhnya.

Belum ada satu menit, ponselnya berdering. Hanya tangan Dinda yang keluar dari kungkungan selimut itu. Ia meraba-raba meja sampai mendapatkan ponsel lalu dibawanya benda itu ke bawah selimut. Kika, nama yang bertengger di sana. Segera Dinda menekan gambar telepon berwarna hijau lalu mengusapnya ke atas.

“KULIAHHHH.” Suara itu terdengar begitu nyaring membuat Dinda buru-buru menjauhkan benda itu dari telinganya, bersamaan dengan itu ia menyibakkan selimut. Pandangannya mengarah pada jam di ponsel, masih pukul 06.35. Dinda mengucek matanya, lalu melihat ponsel, masih menunjukkan angka yang sama. Sekali lagi ia memelototi angka jam di ponselnya, hanya menitnya saja yang bertambah. Dasar Kika berniat sekali mengerjainya.

Kuliah hari ini dimulai pukul 07.30 dan tentu saja menggunakan aplikasi pertemuan online. Jadi harusnya Dinda tak perlu terlalu bingung jika dia bangun kesiangan, karena ia tidak harus mandi, sarapan, dan melakukan perjalanan menuju kampus, yang paling penting kuota dan sinyalnya mendukung.

Terdengar suara cekikikan di seberang sana, dan Dinda hanya terdiam sampai suara cekikikan itu berhenti.

“Puas kamu Kik?” Dinda lalu memutus sambungan telepon itu.

Jemarinya menelusuri aplikasi yang tertera di layar ponselnya, salah satu aplikasi yang menarik perhatian adalah Whatsapp. Ruang yang mungkin tak akan sepi pengunjung. Ada beberapa pesan masuk termasuk dari Kika yang meminta maaf, karena mengganggu Dinda pagi-pagi sekali. Ia mengaku rindu pada kuliah offline, biasanya di jam-jam itu mereka bersiap kuliah. Dibawahnya terdapat grup jurusan yang ramai. Sepertinya ada informasi penting atau menarik karena berhasil mengumpulkan massa untuk membalas.

Merasa penasaran, Dinda membuka pesan itu. Awal dari munculnya balasan-balasan pesan adalah sederet kalimat tanpa titik yang mengabarkan kedukaan.

LELAYU

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang :

Rekza Anindito

Pada pukul 04.35 di Rumah sakit

Mohon maaf apabila beliau ada kekhilafan selama ini

Dinda tertegun, ia ikut mengucap kalimat itu, namun tak sampai diketiknya apalagi dikirimnya karena Dinda tak begitu mengenalnya jadi berucap dalam hati menurutnya sudah cukup. Tak berhenti di ucapan bela sungkawa, mereka yang pernah mengenal berlomba-lomba menceritakan kenangan bahkan kebaikannya sebagai tanda bahwa mereka pernah sangat dekat.

Diceritakan pula penyebab kematiannya adalah virus yang berasal dari kelelawar itu. Orang-orang di dalam grub semakin gaduh, mereka saling memperlihatkan kepedulian untuk tetap menjaga kesehatan, menjaga jarak, memakai masker, dan lain-lain, pokoknya sesuai imbauan pemerintah dan tenaga kesehatan. Dinda menghela nafas, ia muak mendengar peringatan itu setiap hari. Bukan karena tidak peduli dengan kesehatannya atau kesehatan orang lain, hanya saja peringatan itu seperti bukan sebuah peringatan lagi tapi terdengar seperti ancaman, ngeri sekali. Ia meletakkan ponselnya ke meja lalu beranjak.

Ibunya sedang memasak di dapur, aroma masakan itu membikin perut keroncongan. Dinda mengambil piring lalu menghampiri ibunya.

“Belum matang Din, tunggu di meja sana. Tolong kamu siapkan juga nasi untuk Bapak.” Ucap ibunya, sambil mengaduk kuah soto. Dinda berjalan dengan lunglai ke meja yang berada di pojok ruangan itu, kemudian ia mengambilkan nasi untuk bapaknya dan meletakkan di atas meja. Pandangan Dinda tertuju pada sebuah kertas di atas meja itu, yang paling membuat Dinda tertarik adalah tulisan dengan ukuran besar dibanding tulisan yang lain, dibaca LELAYU.

“Ibu, Mbah Minto meninggal?” Tanya Dinda memastikan, seakan tulisan yang ada di kertas itu tak diakui kredibilitasnya.

“Ya kalau sudah dibikinin lelayu berarti sudah meninggal to? Masak bohongan, tega sekali keluarganya kalau sampai membuat berita palsu.” Teriak ibunya, “Tolong kamu beri tahu Bapak, tadi ibu belum sempat memberitahunya. Sama teh ini tolong bawa ke depan.”

Dinda mengambil teh yang sudah disiapkan ibu, lalu membawanya ke Bapak yang sedang membaca koran di beranda rumah. Dinda meletakkan teh di atas meja, kemudian duduk di kursi samping Bapaknya. Lelaki setengah baya itu masih fokus membaca koran, seakan kedatangan Dinda tak menarik perhatiannya, namun hal itu tak membuat Dinda lantas pergi. Ia sengaja menunggu Bapaknya selesai membaca koran karena Dinda ingin mengobrol.

Bapak melirik Dinda sekilas lalu berdehem membuat perhatian Dinda tertuju kepadanya.

“Kamu tidak kuliah hari ini?” Tanya bapak, namun fokusnya masih tertuju ke koran yang ada di genggamannya. Ia membalikkan lembaran demi lembaran demi mencari berita yang menarik perhatian.

“Masih nanti Pak setengah delapan.” Dinda lalu menunjukkan kertas yang dibawanya sambil mengatakan, “Pak ada lelayu.”

Mendengar itu, bapak langsung melipat korannya, meletakkan di atas meja dan beralih mengabil kertas yang dibawa Dinda. Ia membaca dengan seksama, benar-benar dari huruf ke huruf, karena ia tidak ingin melewatkan informasi apapun.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Ucap bapak, di wajahnya tergambar jelas kesedihan.

“Mbah Minto ini orang yang bapak kenal dengan baik. Doakan saja Din yang terbaik untuk Mbah Minto.” Bapak lalu menunduk, tangannya menengadah namun tak diangkat. Mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan kalimat terbaiknya untuk seseorang yang baru saja pergi.

“Bapak tak melayat?”

“Bagaimana mau melayat, kemarin saja Bapak melayat dibubarkan sama satpol PP, katanya tidak boleh berkerumun, nanti bisa tertular virus.” 

Hati mana yang tidak bersedih karena kehilangan? Masih ditambah juga tak bisa melihat untuk yang terakhir kali. Dinda merasakan betul kesedihan bapaknya, apalagi yang dirasakan keluarga dekatnya Mbah Minto, tak diperbolehkan melihat, mendekat, memandikan, mengafani, mengubur, ah semua tugas itu sudah dilakukan orang lain yang bukan keluarganya.

Suara motor mengaburkan keheningan, motor itu kemudian masuk pekarangan rumah dan terparkir di sana. Sang pengendara melepaskan helm dan sarung tangan. Bapak maupun Dinda mengenal betul siapa dia.

“Andi.”

“Mas Andi.”

Tapi belum sempat melebur rindu, Pak RT datang sepagi ini. Ia sangat menjaga jarak terutama dengan Andi.

“Saya ke sini untuk memberi peringatan kepada anak bapak.”

Bapak kebingungan karena tidak tahu menahu kesalahan apa yang dilakukan Andi. Beliau melirik Andi, tetapi dia terlihat santai seperti tidak melakukan kesalahan apapun.

“Memang anak saya ngapain Pak?”

“Tadi dia melayat ke rumah Mbah Minto, tidak menerapkan protokol kesehatan, datang dari perantauan tidak membawa surat swab, siapa yang bisa memastikan dia bebas covid? Padahal sudah ada imbauan untuk tidak melayat. Anak bapak tetap ngeyel, jadi terpaksa saya usir, dan keluraga bapak harus isoman selama dua minggu.”

“Pak  Andi cuma ingin berbela sungkawa.” Ucap Andi berusaha membela dirinya sendiri.

“Masuk, dan langsung mandi.” Perintah bapak.

Tanpa mengatakan apapun, Andi menuruti perintah bapak. Pak RT juga turut undur diri, tetapi sebelum pergi bapak meminta maaf atas kelakuan Andi. Ia juga akan memastikan Andi tidak ke mana-mana selama dua minggu.

“Pak” Suara Ibu mengalihkan perhatian Bapak dan Dinda yang masih berdiri kaku di tempat. Ibu berdiri di pintu sambil menenteng ponsel.

“Bu, bilang ke Andi untuk tidak ke mana-mana. Kita disuruh isoman selama dua minggu sama Pak RT.”

“Ya sudah Pak, kita turuti saja kalau ini yang terbaik untuk kita. Ini ada lelayu. Budhe Intan, positif corona.”

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.”

Belum usai kesedihan ini, sudah ditambahkan lagi. Kali ini kabar duka datang dari kerabat dekat, namun tinggalnya jauh, di kota metropolitan. Lagi-lagi positif virus, langsung dikebumikan pihak yang bertugas. Keluarga hanya bisa melihat dari jauh prosesi pemakamannya. Saat hendak diturunkan ke tanah, jenazah itu tak dikeluarkan dari peti, melainkan dikubur bersama petinya yang berwarna putih. Dinda melihat dari video kiriman saudaranya, tangis haru menjadi backsound video itu. Ia kemudian melirik bapak dan ibunya yang juga hanyut dalam kesedihan.

“Sudah mengabari sanak saudara yang lain Bu?” Tanya bapak setelah video itu selesai diputar.

“Sudah Pak, Ibu juga izin ke Pakdhe nggak bisa melayat karena keadaannya masih kaya gini. Apalagi Andi baru datang dari perantauan.” Jawab Ibu.

“Yasudah, yang penting kirim doa untuk Budhe semoga khusnul khotimah Bu.”

“Aamiin Pak.” Ibu kemudian berbalik ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.

“Dulu itu, sebelum ada telepon genggam, orang meninggal hanya dikabarkan lewat kentongan.” Celetuk bapak tiba-tiba, setelah video itu selesai diputar.

Dinda tertarik dengan kalimat yang disampaikan bapak barusan, ia menatap bapak untuk mendengar lanjutan ceritanya.

“Kamu lihat rumah Pak Dasuki itu.” Bapak menunjuk rumah Pak Dasuki dengan jari telunjuknya, mata Dinda langsung mengekor.

“Setiap ada yang meninggal di kampung ini, orang yang menabuh kentongan pertama kali ya Pak Dasuki. Rumah beliau dulu dijadikan pos keamanan warga sekitar, karena jabatannya sebagai RT. Berita duka itu langsung menyebar, selain dari kentongan dibenarkan dari mulut ke mulut. Jadilah berita duka itu milik satu kampung Din, tapi hanya satu kampung.”

Dinda mengangguk paham, dia masih ingin mendengarkan lagi ceritanya karena Dinda belum menemukan maksud kenapa bapak menceritakan itu.

“Setelah itu muncul media komunikasi, selain lewat kentongan lelayu dikabarkan lewat telepon tapi hanya untuk mengabari keluarga atau saudara yang rumahnya jauh. Kemudian ada media cetak, lelayu dikabarkan oleh kertas-kertas itu, diantarkan beberapa pemuda ke desa-desa seberang, sehingga orang lain akan ikut mendengar. Sekarang lebih mudah lagi Din. Adanya teknologi yang membuat semua orang bisa terhubung hanya dengan satu pesan.”

Bapak jeda sejenak, menyeruput tehnya.

“Koran-koran ini, isinya berita duka. Televisi juga demikian. Grub whatsapp apalagi, kerabat, teman, guru, tetangga, dan yang lainnya apabila meninggal langsung dikabarkan orang-orang terdekat melalui grub whatsapp, tak peduli orang-orang di dalamnya mengenal atau tidak. Tak sampai di situ Din, ada beberapa yang membikinkan pamflet untuk dikirim ke story whatsapp, mungkin juga instagram sehingga akan lebih banyak orang yang melihat, membaca, dan ikut berduka.  Kesedihan itu tak lagi dirasakan individu, keluarga, kerabat, teman, tetangga sekampung tapi juga orang lain yang tak mengenalnya, orang lain yang tak pernah bersinggungan langsung dengannya, tapi ia ikut berduka. Kau mungkin juga merasakannya.”

Dinda tersentak, mengingat apa yang dikatakan bapaknya benar juga. Bahwa zaman semakin berbeda, dan teknologi semakin berkembang pesat. Penyampaian lelayu pun tak lagi menggunakan kentongan, tetapi dengan sekali pesan bisa menjangkau lebih banyak massa.

“Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, orang-orang yang ikut menyebarkan lelayu di media sosialnya, mereka benar-benar ingin mengabarkan kedukaan, atau secara nggak langsung mengajak seseorang untuk mendoakan, atau sekadar menunjukkan kesimpatisannya?”

Dinda terdiam kaku mendengar pertanyaan yang lebih terdengar seperti pernyataan itu. Ia ikut berpikir sejenak, apakah mereka benar-benar ikut berduka atau hanya sekadar menunjukkan kepeduliannya? Entahlah.

“Dinda, Kika menelepon ibu. Katanya kamu dicari Pak Romlan!” teriak ibu dari dapur.

“Astaga, kuliah.” Dinda menepuk jidatnya. “Pak, Dinda masuk dulu.” Tanpa menunggu persetujuan bapaknya Dinda berlari ke dalam rumah.

Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian mengambil koran yang belum selesai ia baca. Di halaman terakhir, kolom paling bawah sebuah berita menarik perhatian Bapak, dengan judul berita :

LELAYU.

Kasus covid-19 bertambah 31.189, meninggal 728 orang.

Langit hari ini  berwarna biru cerah, tetapi berbanding terbalik dengan perasaan manusia bumi. Sedang kelam, berduka cita.

Innalillahi wa innailaihi rojiun.” Ucap Bapak.

Penulis : Denies Vey

Redpel : Nurul F.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *