Kopi dan Es Jeruk

“Kamu yakin ini akhir dari hubungan kita?”

“Mau bagaimana lagi.”

Pucat wajahmu melukiskan beragam pertanyaan dari lelakimu, sedih lelakimu melukiskan gambaran penghianatanmu. Dua jam yang lalu, langit sudah mulai terlihat jingga, burung burung sudah terbang ke arah barat untuk pulang dengan keadaan perut terisi. Diantara keramaian mahasiswa yang bergegas untuk pulang, Kamu dan lelakimu duduk berdua di warung makan depan kampus, di sebuah dingklik panjang kalian duduk bersebelahan. Ketika itu warung sedang sepi namun kalian tetap nyaman disana. Kamu memakai baju berwarna biru dan jilbab berwarna hitam.

Kalian menunggu makanan datang. Kamu memainkan sedotan minumanmu, memutarnya seakan warna es jeruk itu pudar jika tidak kau putar. Sesekali kamu melihat kepada lelakimu yang tertunduk, mungkin kelelahan namun memaksakan diri untuk sempat menemuimu. Dia berbadan sedikit kurus, dengan baju kotak-kotak merah yang sedikit longgar.

Makanan datang, kamu dan lelakimu mulai menyantap makanan sederhana itu, sesekali kalian bercerita tentang hidup kalian, selama kalian tidak bertemu apa saja yang kalian lakukan. Lelakimu menanyakan pekerjaaanmu, kamu menanggapinya bahwa pekerjaanmu sangatlah lancar dan baik. Kamu menanyakan skripsi lelakimu, dia tertunduk sejenak. Lalu lelakimu bangkit dari tundukannya dan menatap matamu.

“Dek, aku masih dalam proses, tahun depan aku yakin aku akan wisuda.”

“Tahun depan?”

“Masih banyak yang harus aku kerjakan.”

“Apa kamu masih mengerjakan skripsi orang-orang daripada skripsimu sendiri?”

“..Iya, aku masih butuh uang.”

“Aku paham, aku bisa membantu.” Kamu memegang tangan lelakimu.

“Jangan, kamu tak perlu.” Lelakimu memperkuat genggamannya ditanganmu.

“Kalau begitu, tolong selesaikan kuliahmu. Segera lamar aku.”

“Segera setelah aku lulus!”

“Kapan?”

“Entahlah, setahun setelah aku lulus mungkin.”

Kamu melepaskan genggaman tanganmu pada lelakimu.

Hening sejenak, kamu memainkan sedotanmu lagi, memutar mutarnya, es jeruk itu masih sama es jeruk meskipun kau aduk seribu kali.

“Dek,” panggil lelakimu pelan.

“ Mas, aku ngga bisa lagi denganmu.”

Kamu memalingkan wajahmu dari lelakimu. Lelakimu menjadi diam tak berkata apapun, namun dia menatapmu, berharap ada alasan yang jelas mengapa. Mengapa, itu yang di pikirannya. Kamu bisa mengetahuinya dari tatapan wajah dan bibirnya yang sedikit terbuka melengkung entah keatas atau kebawah. Setetes air matamu jatuh.

Dua tahun lalu kamu dan lelakimu tidak sengaja bertemu dalam kelas mata kuliah yang sama. Saat itu lelakimu menghindari dosen yang dia anggap tidak mengenakan. Disana kalian bertemu, sebenarnya dia yang datang ke kelasmu. Datang terlambat dan duduk disebelahmu. Sejak saat itu kalian berkenalan lalu akrab dan rasa itu tumbuh pada kalian berdua.

Sejak saat itu juga, lelakimu lebih sering mengambil kelas yang sama denganmu. Kamu menjadi sering bertemu dengan lelakimu, dia yang datang menjemput ke kos mu, dia yang mengantarkanmu kemana saja ketika dia memiliki waktu untukmu, walaupun hanya secuil derajat dari jam tangan.

Tik tok bunyi jam menghiasi keheningan diantara kamu dan lelakimu.

“Mas, kamu kok diam?”

Lelakimu menyeruput kopinya lalu melihat ke arahmu setelah sekian waktu menunduk.

Kamu gelisah.

“Kenapa? Apa ada yang salah dihubungan kita?”

Setahun yang lalu kalian sudah semester tujuh, kalian sama sibuk dengan skripsi masing masing. Namun hubungan kallian semakin berlanjut, kalian sering mengerjakan tugas bersama, berangkat kuliah bersama dan lainnya. Kamu lebih sering meluangkan waktumu kepada lelakimu daripada bersama teman-temanmu. Lelakimu pun ketika libur sering meluangkan waktunya ke rumahmu, berkunjung sekalian mengantarkanmu pulang. Lelakimu sudah akrab dengan orangtuamu. Orangtuamu menganggap lelakimu sudah seperti anak sendiri.

“Jaga anak saya baik baik ya?” ucap bapakmu kepada lelakimu sebelum dia pulang.

“Iya pak, sekuat semampu saya.” Lelakimu lalu tersenyum ke arahmu yang berdiri di belakang bapakmu. Lalu dia pulang. Kamu dan lelakimu adalah pasangan yang bahagia saat itu.

Di hari wisudamu kamu dan lelakimu merayakannya bersama, kalian bahagia bersama, melupakan bahwa hanya dirimu yang wisuda. Ya, lelakimu belum wisuda, dan masih menunda skripsinya untuk dikerjakan. Kamu tidak pernah mengganggap lelakimu bodoh atau apapun, dia pintar. Lelakimu sering mengajarimu mata kuliah dan tugas-tugas yang sulit, kalian tumbuh bersama.

Kamu mengenal lelakimu dengan baik bahwa dia lebih memilih untuk mengerjakan pesanan skripsi yang berdatangan padanya untuk makan sehari hari. Lelakimu sebenarnya sudah bekerja di tempat fotokopi dekat kampus. Namun penghasilannya selalu habis untuk biaya hidup sehari-hari.

“Kenapa, kalau aku punya salah padamu bilango!” ucap lelakimu memelas.

“Kita tidak mendapat restu dari orangtuaku.”

“Orangtuamu sudah mengenalku baik, mana mungkin begitu, mereka selalu berpesan padaku untuk selalu menjagamu. Mana mungkin bisa seperti itu?”

                                                            ***

Saat itu selepas wisuda, kamu mendapatkan pekerjaan yang layak, bekerja sebagai karyawati sebuah perusahaan ternama. Namun lelakimu tak kunjung lulus. Kalian hanya bertemu sekali atau dua kali dalam seminggu, karena kerjamu di luar kota dari tempat kuliahmu. Kamu masih sering memberi kabar padanya dan sebaliknya. Namun lebih sering lelakimu berkunjung ke rumahmu. Lelakimu selalu disambut dengan sangat ramah oleh orangtuamu. Mereka sudah seperti keluarga.

“Mana mungkin bisa seperti itu?!” Ucap lelakimu dengan nada sedikit keras.

Kamu masih memainkan sedotan minumanmu, lelakimu memandangmu perlahan sambil menggertakan jari-jarinya diatas meja.

“Aku dijodohkan dengan orang lain.” Dua tetes air mata jatuh dari dagumu.

“Bagaimana mungkin?” Dia memalingkan wajahnya.

Lelakimu terdiam sambil memutar-mutar sendok di kopinya. Memutar mutarnya, mengaduknya, sesekali memandangimu namun tidak merespon apa yang kamu ucapkan. Kamu mengulangi perkataanmu dengan lebih tegas bahwa kalian tidaklah direstui, kamu telah dijodohkan, dan hubungan kalian harus berakhir.

Lelakimu mulai bicara, “Kamu yakin ini akhir dari hubungan kita?”

“Mau bagaimana lagi, orang tuaku tidak bisa dibantah.”

“Kamu sayang kan?” Lelakimu mengggenggam kedua tanganmu.

“Sayang tapi…..”

“Besok aku akan melamarmu.” Potong lelakimu.

“Tapi…”

“Tabunganku lebih dari cukup untuk kita menikah.”

Tegas bahwa lelakimu yakin bahwa hari itu kamu akan menjadi istrinya.

Kamu terdiam, lelakimu menatap wajahmu, kamu memainkan sedotan es jerukmu. Memutar-mutarnya sambil mencari alasan bahwa kamu telah hamil dari perselingkuhanmu dua bulan yang lalu. Dua bulan lalu kamu dirayu teman sekantormu. Dua bulan yang lalu berbuah pahit pada dua tahun hubunganmu dengan lelakimu. Lelakimu ada disampingmu, tak pernah menyentuh kehormatanmu, dan besok akan melamarmu. Wajahmu pucat, kopi lelakimu masih hitam pekat dan hangat, sementara warna es jerukmu sudah mulai pudar tak segar, luntur oleh es batu yang mencair. Sepudar cintamu pada lelakimu yang luntur digantikan penghianatan. (Rofiqnas)

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Kopi dan Es Jeruk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *