Kemesraan Para Mbambung

Pada akhirnya, peradaban besar manusia memerlukan sebuah alat komunikasi sebagai upaya interaksinya terhadap satu sama lain, atau sebagai bentuk sosialisasinya dengan  sesama manusia.

Semua orang menyebut salah satu alat komunikasi itu adalah bahasa. Bahkan mungkin hanya bahasalah satu-satunya alat komunikasi yang digunakan manusia. Dan yang dimaksud bahasa itu, bisa berupa bahasa tubuh (isyarat), bahasa tanda (kode) maupun bahasa-bahasa apa saja yang tujuannya adalah untuk komunikasi.

Dan tentu, apapun bentuk dari bahasa itu—baik yang verbal maupun yang non-verbal—akan selalu terus-menerus mengalami perkembangan mengikuti gerak zaman, sehingga menimbulkan lahirnya bahasa-bahasa baru setiap abad atau periodenya. Tidak terkecuali di abad milenial yang segalanya serba gaul, meski sebenarnya terkesan aneh.

“Kita ini kan adalah bagian dari anggota atau komunitas para Mbambung,” Jarkembung agaknya mau bicara tentang sesuatu hal.

“Iya, lantas kenapa?”

Mbambung itu kan suatu jenis atau tipologi yang digunakan untuk menyebut manusia yang kadar pendidikan dan konsumsi budayanya rendah. Dan sekaligus sebutan bagi manusia yang setiap harinya tidak jelas kerjaannya alias manusia tanpa tujuan. Pararel dengan makna gemblung, bodoh dan kerdil.”

“Saya juga sudah tahu, Mbung,”

“Dan itu kan sama konsonan katanya dengan akhirannya namamu, Jarkembung.”

“Betul itu,”

“Atau memang, jangan-jangan Jarkodil memilih kata itu lantaran terinspirasi dari kamu, Mbung. Kamu kan kembung gitu. Jadi, mungkin komunitas ini aslinya memang wataknya seperti itu, kembung pikiran dan uangnya. Kembung kan aslinya kosong isinya, meskipun terlihat mblendung seolah berisi.”

“Otakmu terlalu cerdas, Mon. Bahkan saking cerdasnya sebegitunya menjadikan aku bahan bullly-an.”

Lha, ya jangan ngambek gitu po’o rek. Kita ini makhluk bebas sebebasnya untuk pengekspresian semacam itu, dalam hal begitu-begitu kita merdeka dari jajahan siapa-siapa. Bagi kita-kita ini tidak jarak lagi, semuanya satu kesatuan sehingga gausah terlalu baper dengan ucapan-ucapan sesama para Mbambung.”

Jarkembung hanya diam saja. Memang dialah pusat omongan setiap mulut kalau ada waktu senggang sedang kumpul bersama-sama begini. Dan itu adalah bentuk kemesraan di antara mereka. Dan bebas pula kirnya Jarkembung mau membalas bagaimana.

Jarkodil sebagai pencetus gagasan berdirinya komunitas kecil-kecilan itu sekaligus sebagai ketuanya. Memang menghendaki demikian, sebagai wong cilik yang tak punya akses jauh layaknya para pejabat-pejabat agung. Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri punya komunitas yang bebas dari kepungan dan himpitan problem-problem zaman yang serba silang sengkarut ini, karena zaman emoh mengganggunya. Diketuai makhluk sejenis Jarkodil adalah anugerah tersendiri bagi para-para Mbambung itu. Bagaimana tidak? Jarkodil yang tampangnya ndak mbois dan cenderung agak aneh ini. Pada saat-saat lain, ketika memang benar-benar dibutuhkan, ia bisa menjadi penasihat ulung tiada bandingnya, ketika sedang serius-seriusnya ia akan menjadi manusia dengan kekayaan ide dan gagasan, jangkuan-jangkauan wawasan dan imajinasinya begitu luas sehingga ia sangat spesial bagi siapa saja, di saat-saat lain ia juga bisa berlaku layaknya filosof dengan pengalaman matang tentang hidup dan orang yang bisa disambati untuk urusan hukum agama sehari-hari, bahkan sekadar sambat gak ndue beras.

Setelah sekian lama ditunggu, Jarkodil akhirnya datang ke gardu tempat di mana bolo dupakan sekaligus bolo kurawa-nya berkumpul.

“Kalian apa keberatan dengan sebutan Mbambung?” tiba-tiba Jarkodil bertanya demikian, tanpa menyapa terlebih dahulu sama sekali.

“Tidak, kenapa, Dil? salah satu di antara mereka menjawab sembari bertanya.

“Tidak sakit hati?”

“Tidak.”

“Tidak merasa dilecehkan atau didiskriminasikan dengan sebutan itu?”

“Justru itu adalah pembebasan bagi kami.”

“Syukur kalau begitu,” Jarkodil menjawab lega, kemudian duduk metingkrang sambil sibuk dengan slilit yang ada di giginya.

“Kok pertanyaanmu aneh begitu, Dil?”

Tapi pertanyaan itu tidak dijawab oleh Jarkodil. Ia masih sibuk dengan slilit-nya.

“Saya tahu,” Jarkembloh tiba-tiba menyahut, “pasti ini ada hubungannya dengan kemarin ada sebuah kata yang dilarang untuk digunakan karena berpotensi melecehkan, merendahkan martabat dan menyengsarakan seseorang. Bahkan bisa membuat orang yang menggunakan kata itu terkena tindak pidana ….”

“Iya, tho?”

“Emang kata apa itu?”

“Kok bisa begitu?”

“Apa ndak berlebihan itu?” Sobirin bertanya agak heran, “Tiap hari di sini, kita-kita ini kan saling ejek-mengejek dan berlaku seenak jidat kalau soal kata-kata. Apalagi sekadar mengata-ngatai, kita adalah jagonya. Saya kira tidak ada hal yang lebih indah, yang memuat keakraban dan kemesraan batin bagi arek jawa timur selain kebiasaan semacam itu. Ditambah lagi kita ini adalah kumpulan para Mbambung.”

“Mungkin masalahnya tidak sesederhana itu,”

“Lantas, serumit apa?”

“Makanya tho sekali-sekali mengikuti trending topic. Biar ndak ketinggalan gaul …. jangan Mbambung terus!” salah seorang dari mereka berkata dengan nada mengejek tetapi malah ia tertawa.

 Jarkodil hanya senyum-senyum saja melihat kegaduhan yang terjadi di hadapannya. Malah ia mengambil rokok di saku celananya lalu menyulutnya.

“Setiap kata yang diucapkan itu kan pasti memuat sesuatu. Semacam maksud dibalik kata yang terlontar itu sendiri. Kemungkinan dari maksud itu adalah untuk hal positif atau negatif …. dan mungkin di situlah letak permasalahannya ….”

“Sebentar … sebentar ….” Jarkembung mencoba mencerdasi, “jadi, sebenarnya letak masalahnya bukan pada katanya?”

“Bisa jadi, begitu,”

“Kok, bisa jadi?”

“Kata pihak yang berwenang, memang yang akan terpidanakan terhadap penggunaan kata itu apabila di dalamnya memuat unsur kekerasan verbal, merendahkan martabat orang serta mengandung makna perisakan atau semacam bullying. Kalau semua unsur-unsur seperti itu terpenuhi, maka penggunaan istilah yang dimaksud dapat berujung tindak pidana.”

“Lalu, cara untuk melihat dan mengukur istilah atau kata itu memenuhi unsur-unsur semacam itu atau tidak, bagaimana?”

“Kita bisa melihat itu pada konteks perkataan atau ucapan itu dipergunakan,” Jarkodil akhirnya ikut masuk, “maka segala sesuatu itu harus dilihat pula konteks permasalahan yang ikut dan yang melatarbelakanginya. Hukum fiqh pun dibuat harus berdasar illat permasalahannya juga. Artinya, selain makna kata secara semiotik. Makna secara pragmatis terhadap kata itu juga harus diperhatikan.”

“Wahh, malah nge-dosen,”

“Kalau dikatakan demikian, bahwa kata itu akan menjadi tindak kekerasan apabila memenuhi unsur-unsur yang telah disebutkan tadi. Maka, sebenarnya letak kekerasan itu lebih terletak pada niatan awal atau tujuan yang hendak dimaksudkan melalui kata-kata itu. Bukan pada tampakkan kata-katanya. Dan itu sifatnya tak tampak, sebab itu dimensi rohaninya manusia. Siapa yang tahu niat atau keadaan hati manusia? Akan tetapi, hukum tidak akan mungkin melihat sampai ke ranah itu. Niat atau keadaan hati tidak mungkin bisa dikenai pasal hukum.”

Jarkodil benar-benar memulai materi kuliahnya.

“Kata-kata memang bisa lebih kejam dan menyakitkan daripada sebuah perbuatan. Maka ada istilah, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Juga lidah yang lebih tajam dari pedang. Saya menjamin kalian semua yang ada di sini, akan lebih memilih saya pukul pipi kalian daripada saya leceh atau hinakan bapak-ibu kalian dengan kata-kata tidak senonoh. Ini tambahan, tingkat kekejaman sesuatu itu juga bukan semata-mata terlihat pada bentuk perbuatan fisiknya. Itu hanya salah satu ekspreksi jiwa manusia yang gelap terhadap kekuatan dirinya. Saya contohkan untuk yang saya maksudkan itu, bahwa perbuatan meludahi jauh lebih kejam dan lebih merendahkan ketimbang memukul. Apa di sini yang mau saya ludahi? ….”

“Jadi, kalau misalnya kita menggunakan kata-kata yang meskipun secara nilai itu jelek untuk diucapkan. Tetapi dengan tujuan sebagai bentuk kekaguman, apresiasi dan apapun saja yang secara tujuan kita ucapkan untuk hal keakraban dan kemesraan sebagai kawan, lebih-lebih sebagai manusia. Itu tidak akan bernilai hukum apa-apa. Seperti yang biasa kita lakukan di sini setiap harinya. Karena kita sudah sebegitu dekatnya, dan mungkin lantaran jiwa kita semua ini sudah menyatu. Maka tidak ada hal yang bernilai negatif bagi kita. Semua berjalan enjoy-enjoy saja, tidak ada masalah.”

Jarkodil mengambil posisi duduk dan bersikap layaknya Ustadz di TV-TV Nasional.

“Etika-etika pergaulan kan sudah saya sebutkan pada simposium intelektual-spiritual dulu-dulu, sebagaimana strategi komunikasi dalam Al-Qur’an. Kalau kita belum kenal dengan seseorang yang sedang kita ajak bicara, yang masih jauh kedekatan hati kita, maka pola komunikasi yang kita gunakan adalah bil-hikmah. Dengan kebijaksanaan ucapan dan kata-kata, jangan sampai menyinggung perasaan seseorang tersebut. Tetapi, kalau konteksnya sudah agak cair dan lembut, sudah satu majlis, duduk bersama dalam satu jalur lingkaran tujuan yang kita gunakan adalah fastabiqul khairat, yakni mengedepankan nilai-nilai kebaikan. Kebaikan itu satu tingkat dibawah kebijaksanaan, tetapi masih harus ada pertimbangan untuk maslahah bersama-sama, belum boleh berlaku seenaknya sendiri. Akan tetapi kalau sesuatunya sudah dekat, sedekat kita semua para Mbambung yang sudah tidak ada lagi jarak pemisahnya ini, pola komunikasi yang digunakan adalah qulil haq walau kana murron. Tidak masalah mengatakan kebenaran yang sesungguhnya, meskipun itu agak menyakitkan. Seperti ketika saya menyebutkan kalian-kalian itu para Mbambung. Bebaslah mau mengatakan apapun saja, termasuk kebenaran-kebenaran yang aslinya pahit untuk diterima telinga. Karena memang sudah tidak ada lagi masalah dengan itu semua kalau hati kita sudah berdekatan satu sama lain dan saling mengerti.”

Jarkodil memandangi semua kawan-kawan Mbambung-nya itu dengan tatapan seperti ayah sedang menatap kepada anaknya.

“Apapun saja, memang harus tepatlah posisi ruang dan waktunya. Segala hal punya konteks momentumnya masing-masing. Segala ucapan, perbuatan dan sikap memiliki harus segaris dengan filosofi empan papan serta harus berdiri tepat pada patrap penerapannya masing-masing.”

Tiba-tiba, tanpa disadari oleh seluruh orang yang ada di gardu tersebut. Muncul Jarkasin dari arah belakang gardu membawa ketela bakar sakarung.

“Loh cuk, koen jik urip ta ….”

Asuuu, matamu gak ndelok’a ….”

Semua Mbambung tertawa terpingkal-pingkal. []

Ahmad M Thohari

Selasa, 01 september 2020

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *