Kekhawatiran KPMb (Corona Part 1)

Ternyata, memang sangat mengkhawatirkan kondisi sekarang ini. Tidak hanya di satu atau dua tempat saja, melainkan di banyak tempat bahkan mungkin sudah sampai seluruh tempat.

Breaking News terakhir, tercatat sudah mencapai pada angka 360-an jumlah korban yang terkena wabah virus itu di tanah air. Memang sangat mengkhawatirkan.

Jarkodil nampaknya juga sedang ikut merenungkan kondisi yang terjadi sampai saat ini. Benar saja, dia salah satu dari banyak orang yang cukup gelisah dengan melimpahnya wabah coronavirus atau covid-19. Tetapi apa yang sebenarnya digelisahkan oleh Jarkodil itu, sampai-sampai kalau diajak berbicara dia hanya menjawab, ya dan tidak. Tidak seperti biasanya yang suka berbicara panjang lebar bak air bah yang sedang tumpah.

“Kegelisahanmu kayaknya semakin menjadi-jadi, Dil. Akhir-akhir ini wajahmu begitu murung dan semakin kelihatan kusutnya.” Jarkasin mengawali pembicaraan.

“Apa yang kamu gelisahkan sih Dil, sebenarnya. Corona-corona itu?” Jarkembung menambahi, “coronavirus itu ‘kan ya seperti wabah biasanya, setiap perjalanan zaman juga bersama tranformasi peralihannya abadnya pasti akan dibarengi munculnya wabah-wabah. Jadi, kasus tentang wabah itu sudah ada sejak zaman dahulu. Kalau kita menyebutnya pageblug. Dan tentu itu akan mereda dan hilang dengan sendirinya. Likulli dain dawaun. Kan begitu katanya para uztadz, mubaligh dan ulama. Ya, meskipun kita juga tidak terus berdiam diri, pasrah bongkokan. Tidak berikhtiar melakukan apa-apa. Tidak mencari formula dan antisipasi atas adanya wabah itu.”

Akan tetapi, Jarkodil tidak bergeming sama sekali. Telinganya tuli tersumbat kegelisahannya sendiri. Dan mulutnya juga tersumbat oleh tumpukan-tumpukan pikirannya sendiri.

“Oalah, Dil. Mbok ya jangan mbisu dan mbudeg begitu opo’o.” celetuk Jarkembloh.

“Kita-kita ini juga butuh perkataanmu, pendapatmu, pandanganmu, analisamu, sekaligus pertimbangan matang darimu.”

“Termasuk pendapatanmu.”

“Ojo ngawurrr…..”

“Jarkodil ini sudah beberapa hari tidak kerja, lantaran masalah yang sedang mewabah ini. Kok malah dimintai pendapatannya.”

“Lihat itu badannya sampai kurus tidak diurusi makanan.”

Dunia saat ini sedang dilimpahi covid-19, adalah virus yang ‘ainul hal datang dan munculnya hanya Allah yang tahu dan kenapa dipilih tempat bernama Wuhan sebagai awal lahirnya corona virus ini. Sehingga saat ini telah menyebar luas ke seluruh dunia, menghampiri negara-negara yang ada di dunia, termasuk Indonesia. Bukan perkara mustahil memang, sebab wabah ini sudah diklaim pandemi oleh WHO sebagai badan kesehatann dunia. Wabah ini terus hinggap dari satu wilayah ke wilayah lain. Bahkan dari satu tubuh ke tubuh lain. Tak ayal, korban yang telah meninggal di dunia secara keseluruhan sudah mencapai angaka ribuan, bahkan puluhan ribu jumlahnya. Hal ini kemudian membuat negara di berbagai belahan dunia langsung sibuk menyiapkan segala upaya-upaya preventif agar wabah ini tidak semakin memakan banyak korban. Petinggi negara dan para menterinya dengan tanggap membuat kebijakan-kebijakan guna meredam serangan makhluk tak kasat mata ini. Formula social distance, lockdown wilayah, penyemprotan disinfektan, dan berbagai bentuk model lainnya diberlakukan untuk proses inkubasi coronavirus tersebut.

Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatannya. Pemakaian masker ketika memang diperlukan untuk beraktivitas luar. Mencuci tangan dengan sabun dan sanitizier juga dihimbaukan kepada masyakat melalui badan kesehatan negaranya. Semua itu adalah upaya “ilmiah-praktis” dalam rangka pencegahan wabah covid-19.

Tetapi, bagi Jarkodil dan para kelompotannya yang tergabung dalam KPMb (Komunitas Para Mbambung), adakah kewajiban bagi mereka dalam hal ini. Sehingga membuat Jarkodil sangat serius merenungkan kasus wabah ini. Padahal dia ini bukan seorang tokoh atau orang yang punya reputasi di negaranya. Paling jauh dia hanyalah orang yang sok jadi ilmuwan, negarawan dan begawan atau nggaya menjadi sehebat para ahli. Itu pun sangat kesandung-sandung gayanya. Jarkodil ini ‘kan memang tidak jelas profesi dan status sosialnya. Paling-paling hanya sebatas ”kleyang kabur kanginan”. Atau kalau pakai idiom Arab, wujuduka ka-adhamuka. Lebih parah. Ada dan tidaknya sama saja. Tidak punya pengaruh apa-apa.

Setelah sekian lama membisu tidak mau bicara, akhirnya terdengar juga suaranya.

“Saya ini sedang takut dan sangat khawatir dengan wabah ini.” Jarkodil mulai bicara.

“Potonganmu!” jawab Jarkembung yang memang agak sensitif.

“Apa yang kamu takutkan? Corona itu atau kematian? Atau apa?” tambah Jarkasin.

“Tidak. Tidak itu.” jawab Jarkodil, “sesuatu yang melatarbelakangi muncul dan melimpahnya coronavirus ini yang membuat saya gelisah. Atas dasar dan alasan apa virus ini dimunculkan. Kenapa harus dari Wuhan, Tiongkok. Kalau melihat huruf dan bunyi vokalnya dalam kata “Wuhan” ini terdapat bunyi “wa”, “ha” dan “na” yang tidak akan jauh berbeda meskipun juga tidak sama persis dengan “wahnan ‘ala wahnin”. Yang berarti “lemah yang bertambah-tambah”. Atau suatu keadaan yang begitu sangat lemah. Tapi tetap ini tidak ada hubungannya dengan ibu yang mengandung atau hamil. Seperti makna tekstual dalam satu ayat tersebut. Akan tetapi, bukannya setiap huruf, kata, frasa dan kalimat dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang luasnya melebihi samudra bahkan cakrawala alam semesta. Misalnya “Alif”, “Lam”, “Mim” itu saja tidak arti dan tafsir baku. Bukannya tidak bisa diarti dan ditafsirkan. Itu ‘kan malah mengindikasikan bahwa maknanya sangat luas dan sangat komperhensif serta sangat mungkin untuk berkembang fleksibilitasnya. Kembali lagi, kalau “lemah yang bertambah-tambah” itu kita coba renungkan dan elaborasi kaitannya dengan mewabahnya coronavirus tersebut. Apa yang “lemah” atau “melemah”. Atau yang “melemahkan” dan “dilemahkan” secara bertambah-tambah?”

Semua teman Jarkodil saling berpandang-pandangan.

“Artinya begitu luas dan saya tidak yakin ada pemaknaan dan penafsiran yang baku. Bisa saja adanya coronavirus yang sedang ada di bumi ini, adalah bentuk untuk menyadarkan bahwa manusia itu benar-benar dalam “keadaan lemah yang bertambah-tambah” dan semakin melemah. Bayangkan saja peradaban abad 21 adalah peradaban yang mengklaim dirinya sebagai peradaban tertinggi dengan teknologi dan pengetahuannya terseok-seok oleh adanya virus ini. Ternyata teknologi dan pengetahuannya sangat keteteran untuk menghadapi wabah coronavirus. Terhadap makhluk kecil dan sangat kasat mata ini, teknologi dan pengetahuan kita dilecehkan sedemikian rupa adanya. Tak tanggung-tanggung semua planning, apalagi rencana besar atau kegiatan-kegiatan penting yang sudah teragenda, mau tidak mau harus terpaksa diberhentikan atau ditunda pelaksanaannya. Terbukti bahwa di abad 21 ini kita terlalu sombong, takabbur, GR (gede rumongso) terhadap apa yang telah kita capai. Padahal terhadap makhluk kecil tak kasat mata itu pun nyatanya kita sangat kesulitan menghadapinya. Memang telah terindentifikasi virusnya dan gejala serta bentuk penanganan dan pencegahannya. Tetapi lihat, mereka para ahli belum tahu dan menemukan bagaimana cara kerja dari coronavirus ini.”

Ternyata tak berhenti di situ omongan Jarkodil.

“Itu tadi yang pertama. Kedua, coronavirus bisa melemahkan daya tahan tubuh manusia yang dihinggapinya. Yang kemudian akan membuat sistem kekebalan tubuh manusia tersebut tergogoti perlahan-lahan dan akhirnya “ajal” menjemputnya. Covid-19 bisa hinggap dan melemahkan tubuh siapa saja, baik manusia yang sehat, apalagi yang tidak sehat. Manusia alim maupun manusia dholim. Manusia intelek ataupun manusia tingkat bawah IQ-nya. Tidak ada jaminan resmi siapa manusia yang mampu merdeka dari bahaya coronavirus ini. Entah itu presiden, dokter, selebritis, pesepak bola dan lainnya. Semua bergantung pada “innallaha ‘ala kulli syaiin qadir”. Sebab cara kerja dan pergerakan covid-19 ini berada pada formula ”min haitsu la yahtasib” yang tak bisa diduga pola gerakannya oleh siapa pun, kecuali penciptanya. Selain itu, tentu wabah ini akan melemahkan pula tata kelola keamanan dan pertahanan negara, dalam lingkup yang lebih luas. Juga masalah sosial dan ekonomi tidak mungkin pula terjamin akan baik-baik saja kondisinya. Tetap akan ada sesuatu yang mau tidak mau kita semua harus siap menerima dampak konsekuensinya. Saya ingin bertanya kepada kalian semua. Apakah cara atau langkah yang telah diambil oleh pemerintah kalian telah tepat dan sesuai untuk menangani wabah ini? Mungkin sebagian sudah pas dan tepat dilihat dari segi praktisnya. Sedangkan permasalahannya ini begitu ruwet kompleksitasnya. Bagaimana pendapat kalian, kita sedang berdiskusi bukan?”

“Saya tidak tahu, Dil.” sahut salah satu teman Jarkodil.

“Memang kalian ini, kumpulan para mbambung!” bentak Jarkodil keras.

“Termasuk yang berbicara!” yang lain menyahut.

“Terus kita harus bagaimana, Dil. Apa yang harus kita lakukan?” Jarkasin bertanya.

“Tidak cukup sekiranya kalau formula yang kita lakukan atau pemerintah putuskan untuk menangani wabah virus ini hanya hal-hal yang seperti itu. Perlu ada selain cara praktis horizontal. Kita butuh juga menempuh cara yang dilakukan secara vertikal-keilahian. Jadi harus seimbang. Juga yang perlu untuk dikasih dan disemprot disinfektan bukan hanya tempat umum saja. Melainkan juga mau untuk melakukan upaya disinfektan terhadap jasadiyah dan rohaniyah diri kita sendiri. Supaya bersih dari kotoran-kotoran mungguh dan ora biso rumongso.”

Tiba-tiba mobil ambulance lewat. Bunyi sirene-nya begitu memekakkan telinga orang-orang KPMb ini. Diskusi tiba-tiba mandek.[]

_Corona, 1
_Ahmad Miftahudin Thohari
Ngawi, 21 Maret 2020

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *