Jerigen Air Membuat Warga Paciran Terkenal

“Nek kepengen dadi wong sugih, kudu wani mlarat disik lan sumeh karo liane.” (kalau ingin menjadi orang kaya, harus berani susah dulu dan ramah dengan orang lain).

Ungkapan itu dilontarkan oleh seorang bapak berusia 60 tahun. Jalan Dampu Awang, Desa Paciran, Kabupaten Lamongan inilah yang menjadi kawasan terkenalnya Luqman sebagai pengangkut air dan penyembelih hewan qurban.

Pukul 06.00 WIB, motor GL tua tersebut berbunyi untuk dipanaskan mesinnya. Sebelum berangkat ke sumber air, Luqman menyiapkan jerigen untuk diangkut di belakang motornya. Sekitar 1 KM perjalanan dari rumah menuju sumber air yang bernama “Galalo”. Bunyi air mengalir yang deras dari sumur Galalo melalui selang menuju jerigen, terasa segar sekali jika dilihat dengan mata saja. Ternyata tak hanya menyegarkan mata saja, namun menyegarkan tenggorokan.

Daerah Paciran, memang dikenal sebagai penghasil ikan terbesar se Jawa Timur. Tak hanya ikan saja, kabupaten Lamongan sejak tahun 2007 sudah ditetapkan sebagai daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur. (https://regional.kompas.com/read/2009/06/05/15554097/produksi.padi.di.lamongan.meningkat). Sehingga cuaca yang lumayan panas, mengharuskan Luqman untuk tetap bertahan sampai sekarang menjadi “ngangsu banyu” (pengangkut air) untuk menghilangkan dahaga masyarakat.

“dulu, zaman orang belum ada yang bikin rumah ya biasanya ngantar untuk orang-orang yang mau bertani. Lah wong tempat mata airnya dekat orang bertani. Sekarang mulai beralih ke pantura, yang biasanya penduduknya mayoritas nelayan.”

Dari pagi sampai siang, Luqman menghabiskan waktunya untuk mengangkut air, sorenya ia lanjut “angon wedhus” (merawat kambing). Kemudian, malam memberi makan burung Perkutut dan burung Puter. Begitu dan seterusnya, namun Luqman tidak merasa putus asa, sehingga bisa menyekolahkan ke 8 anaknya.

Selain mengangkut air buat masyarakat, airnya juga untuk dia bertani dan kasih minum hewan ternaknya.

2 dari 8 bersaudara sudah lulus kuliah. Anak pertama, Rudin (31) tidak mau merasakan kuliah, “lebih baik kerja, dapat duit.” Katanya. Anak kedua (Otin) dan ketiga (Qiqi) mereka berdua sudah lulus kuliah, dengan sebagian dapat bantuan pemerintah dan sebagian dari menjual kambingnya. Kemudian anak keempat (Firda) sudah mulai memasuki kuliah semester 7 tahun ini. dan keempat saudara yang lainnya masih duduk di angku sekolah. Dua saudara masih di SMP, dua saudara lagi masih di MI.

Luqman Hakim adalah seseorang yang masih keturunan Kyai yang sakti. Buyut dari neneknya Luqman.

“Saya lupa namanya, pokoknya saya pernah diceritain nenek saya. Beliau bilang,  jabatan niku mboten saget nulungi awakmu naliko susah, ning awakmu kudu sumeh karo liane lan wani susah. Suwe-suwe wong lek kenal awakmu, bakalan ono seng takon asal usulmu.” (jabatan itu tidak bisa menolong kamu ketika susah, tetapi kamu harus ramah dengan orang lain dan berani susah. Lama-kelamaan orang yang sudah kenal kamu, bakalan ada yang tanya asal usulmu)

Dari kecil Luqman selalu ingin berusaha sendiri, tidak mau ikut kerja pabrik-pabrik yang kebanyakan disuruh-suruh. Sehingga dengan jalannya sebagai “ngangsu banyu” ia dikenal banyak masyarakat Paciran, dan banyak orang yang memanggil ia untuk menyembelih hewan qurban.

Foto diambil 31 Mei 2020 ketika Luqman menyembelih hewan Qurban

“Sapi kui gedhe, dadi akeh uwong seng durung tegel nyembelih nganti saiki.” (sapi itu besar, sehingga banyak orang  yang belum tega nyembelih sampai sekarang). Ketika diwawancarai malam takbiran 30 Mei 2020.

Rumah dengan ukuran 12×8 meter ini menjadi saksi perjuangan Luqman yang berjuang keras demi keluarganya. Tak lain seperti itu, anak-anaknya juga pandai sholat malam dan pergi ke masjid. Meskipun penghasilan Luqman tidak berjuta-juta, tetapi kaya hati, suka bersedekah dan mencintai anak-anak.

“kaya seng tak maksud kui kaya ati yo mbak, nek kaya harta yo anak-anakku iki wes akeh. Haha.” (kaya yang saya maksud itu kaya hati ya mbak, kalau kaya harta ya anak-anakku ini sudah banyak).

Sekarang Luqman menjadi terkenal dengan sebutan “Man Luq Ngangsu Banyu”. Jika ingin mencarinya, hanya dengan sebutan itu masyarakat Paciran sudah mengenalnya.

Penulis: Yuni Firdaus

Memenuhi tugas untuk http://serat.id

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *