Dino Tantowi, Sebuah Jalan Menuju Teater

Sinar matahari seperti malu-malu menampakkan diri, ia bersembunyi di balik awan kelabu, sebentar melirik, sebentar kemudian mendelik. Deru motor bersahutan dengan suara kokok ayam betina, suara sisa hujan yang menetes di atap rumah berbahan seng, dan cuitan burung yang mengiringi perjalananku menuju satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Surakarta. Setelah motor terpakir, kakiku menapak demi setapak menuju ruangan paling selatan Gedung Student Center (SC) lantai satu.

Seorang pemuda bertubuh gembul dengan rambut berwarna hitam pekat bergelombang, masih basah dan dibiarkan teruari berdiri di depan komputer. Oleh dosennya mahasiswa itu dikenal suka terlambat, jarang mengerjakan tugas, rambut acak-acakan, dan seringkali dianggap tidak berguna. Ia menyambutku dengan cengiran lalu menggiringku menuju sebuah lincak yang berada di belakang ruangan yang lebih sering disebut sanggar.

Aku duduk di ujung lincak coklat lebih dulu, seperkian detik kemudian disusulnya. Ia menyilakan kedua kakinya di atas lincak tersebut. Jari telunjuk dan tengah kirinya mengapit sebatang rokok, sedangkan di tangan kanannya menggenggam korek api. Obrolan dimulai ketika aku langsung mengatakan maksud dan tujuanku mendatanginya tak lupa aku meminta izin untuk merekam apapun yang terjadi nantinya. Dari mulutnya terceletuk sebuah kalimat pemula, “Nganggo assalamualaikum ora?” lantas kita saling melepaskan tawa. Biasanya setiap kali mengobrol, kita tidak pernah mengucap salam dan obrolan mengalir begitu saja. Jadi ketika ia menanyakan haruskah mengucap salam itu menjadi sesuatu hal yang agak nyleneh.

Lepas tertawa, ia menyalakan sebatang rokok di tangannya dengan korek api. Dihisapnya dalam-dalam rokok itu lalu dihempaskan asapnya ke udara. Mulailah ia menceritakan sejarah hidupnya sendiri yang akhirnya bisa membawanya sampai ke dunia yang ia geluti saat ini yaitu teater.

Dino Aditya Tantowi, begitulah nama yang diberikan kedua orang tuanya untuknya. Semenjak Sekolah Dasar, ia telah tertarik dengan kepenulisan. Ketika ditanya tentang cita-citanya, dengan mantap ia akan menjawab sebagai seorang penulis. Salah satu orang yang mengenalkannya dengan tulis menulis adalah kakak perempuannya sendiri yang dulunya juga seorang penulis anak di Mizan, sampai saat ini kakaknya tersebut masih bergelut di dunia kepenulisan dengan menjadi editor di Intan Pariwara.

Menginjak SMP dan SMK, Dino belum menemukan alasan yang kuat untuk menulis. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku terutama buku-buku terjemahan. Ia lebih tertarik dengan penulis-penulis luar seperti Albert Camus, Ernest Hemingway, dan Edgar Allan Poe daripada penulis Indonesia seperti Tere Liye dan lain-lain.

Ketika lulus dari SMK 2 Klaten, ia memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Namanya sebuah perjalanan, rasa bosan dan kurang bergairah menikmati hidup timbul jua. Kadang rasa senang hanya muncul ketika memperoleh hasil jerih payahnya. Akhirnya pada 2017 ia memutuskan untuk kembali ke Klaten.

Terbesit keinginan dari lubuk hati terdalamnya untuk melanjutkan pendidikan. Sempat ia mendaftar ke salah satu universitas swasta di Yogyakarta namun keberuntungan belum menghampirinya. Lalu ia mendaftar ke IAIN Surakarta jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), di sinilah akhirnya ia menemukan pelajaran hidup yang cukup berharga.

Sebenarnya tidak ada ketertarikan padanya untuk masuk jurusan tersebut, karena yang terpenting adalah kuliah, jurusan apapun itu. Ia hanya tidak ingin menjalani hidupnya seperti orang normal lainnya, maksudnya setelah lulus SMK, kerja, menikah lalu punya anak. Alasan selanjutnya yang membuatnya kurang berminat dengan jurusan SPI yaitu kebanyakan mahasiswa atau dosen mengambil penelitian tentang Islam saja, padahal ia merasa ketertarikannya bukan hanya pada Islam saja. Beruntunglah ia bertemu dengan seorang teman yang memberinya buku berjudul Dalih Pembunuhan Masal yang ditulis oleh John Roosa. Dalam buku tersebut diceritakan kejadian pra, pas, dan paska 65 dengan rinci, hal itulah yang membuatnya mulai mencintai sejarah terutama sejarah-sejarah kelam di Indonesia.

Awal semester satu ia menemukan sebuah kebimbangan karena merasa kuliahnya hanya sekadar berangkat dan pulang, kemudian ia memutuskan untuk mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Locus. Hal yang membuatnya tertarik adalah tentang pers dan juga kesenangannya dengan tulis menulis, namun ia tidak sampai tuntas berada di sini. Ada yang ingin dia temukan, suatu kegiatan yang lebih menyenangkan. Kemudian jatuhlah ia pada Teater Sirat, menurutnya Sirat begitu menyenangkan dilihat dari orang-orangnya.

Pertama kali dirinya bertemu Teater Sirat ketika UKM Fire 2017. Giliran Sirat diberikan panggung untuk orasi, orang-orang nyentrik itu berjalan menuju panggung dengan membawa identitasnya. Mereka datang dengan wajah muka bantal didukung dengan membawa peralatan tidur seperti bantal, guling, dan selimut. Dalam orasi tersebut salah seorang mengatakan bahwa Sirat tidak membutuhkan anggota, padahal UKM lainnya berhias untuk mempercantik dan menarik perhatian para mahasiswa agar bergabung, tetapi Sirat tidak. Sebab itulah Dino tertarik untuk bergabung dengan Teater Sirat.

Di Sirat ia sempat merasa digantung karena pentas perdananya gagal, Calon Warga Teater Sirat (CWTS) yang lolos sampai melewati Latihan Dasar (Lada) pada masanya hanya 7 orang. Ia sempat berlatih untuk pentas perdana dengan naskah Pagi Bening yang disutradarai oleh Santi selama enam bulan. Tak sampai akhir anggota keluarga pentas perdananya telah hilang satu per satu dan menyisakan dirinya sendiri. Didukung saat berlatih menjadi aktor ia tidak segera menguasai, oleh sang sutradara pementasan tersebut dibatalkan.

Daripada kehilangan arah dan terombang-ambing oleh ombak karena tak jadi pentas, ia diminta membantu tim produksi di bidang peralatan dan perlengkapan (perkap) pentas perdana milik keluarga lain yang masih dalam satu angkatannya. Kemudian ia diajak pentas oleh Gethuk dengan naskah Dukun-dukunan. Dino mengatakan bahwa ini suatu kebanggaan bagi dirinya sendiri karena bisa bersanding dengan aktor yang keren-keren, seperti Atin, Azka, Aceh, Mlinjo, dan Awing, walaupun ketika pentas penampilannya sangat timpang antara dirinya dengan aktor senior.

Setelah pentas ia menyadari bahwa aktor bukan pashionnya, dan perkap juga bukan fokusnya di teater. Kebimbangan mulai menjajah pikirannya, “Kan aku due pilihan iki. Aku akan fokus neng kuliah wae karena aku merasa teater bukan pashionku pas kui. Karena ngertiku mung aktor, perkap, aktor, perkap.

Selama pergelutan antara dirinya dengan batinnya, ia menghilang satu tahun dari teater sirat dan mencoba menulis naskah dengan judul Waktu yang Berlari. Naskah ini merupakan adaptasi sebuah puisi karya Afrizal Malna dengan judul Abad yang Berlari. Tak mudah dalam menuntaskan naskah karena ia kebingungan harus dibawa ke mana ending naskah tersebut? Hampir satu tahun lamanya naskah tersebut mangkrak.

Pada awal penggarapan sebenarnya naskah itu bukan naskah realis tetapi naskah sureal yang menggambarkan sebuah kehidupan manusia yang dikejar waktu. Pernah dipentaskan di kafe daerah kartasura oleh teman-teman sekelasnya.

Naskah itu kemudian ia sodorkan kepada Hendri dan Aris, circle-nya dalam menulis. Ia mengatakan kalau setiap penulis harus memiliki circle dalam menulis, yaitu orang-orang yang bisa dimintai pendapat dan kritik.

Walau beberapa orang mengatakan naskah tersebut sangat sinetron, tetapi tekadnya bulat untuk mementaskan naskah tersebut. Ia turun langsung sebagai sutradara dalam pementasan tersebut pada 6 Maret 2020 dalam pentas perdana Teater Sirat yang diperagakan oleh Nando sebagai Warjo, Isma sebagai Surti, Iva sebagai pengamen, Winda sebagai Nina, Tarisa sebagai Ibu, dan Denies sebagai Sari.

Dino merasa telah menemukan fokusnya di teater, yaitu menulis. Suatu ketika Ia berpikiran apa yang sudah dipelajari dalam sejarah itu kenapa tidak diimplementasikan kepada fokusnya di teater? Kemudian ia melakukan riset, penelitan, dan observasi. Hasilnya ia tulis dalam sebuah jurnal dengan tema rekontruksi peristiwa sejarah dalam kesenian teater. Tujuannya untuk memasyarakatkan sejarah dalam pementasan teater. Banyak sekali peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak dicatat dalam buku-buku pendidikan maupun diceritakan dalam pendidikan formal seperti sejarah tahun 1965, menurutnya ketika seseorang tidak menggali sendiri sejarah itu, tidak ada yang akan mengetahuinya karena sejarah-sejarah tersebut tidak mungkin disajikan secara terang-terangan.

Tulisannya tersebut diikutkan dalam Seminar Sejarah Nasional. Event tersebut ditujukan kepada para sejarawan dan ketika tulisan seseorang lolos dalam event tersebut, maka bisa dikatakan hal itu sebagai pencapaian tertinggi bagi para sejarawan-sejarawan dalam menyodorkan tulisannya ke khalayak umum.

Dari ratusan orang yang mendaftar terpilihlah 70 orang se-Indonesia termasuk dia dan dosennya. Lagi-lagi suatu kebanggaan bagi Dino karena bisa sejajar dengan dosennya yang pernah menganggapnya tidak berguna di dunia teater, ia berhasil mematahkan stigma dosennya ketika namanya tercantum dalam undangan tersebut.

Sudah ada sekitar 7 naskah yang ditulisnya, antara lain Waktu yang Berlari act (2018), Waktu yang Berlari Realis (2019), Bisikan-bisikan (2019), Makan Malam Terakhir (2020), Biyung (2020), Seperti Merpati yang Ingin Terbang ke Bulan (2020), dan Semangkuk Mawar yang Telah Kau Hidangkan (2020). Untuk tahun 2021 Dino belum memiliki rencana untuk menulis naskah lagi, walaupun selama pandemi banyak waktu luang tetapi ia belum menemukan rasa yang tepat untuk menulis. Menurutnya lebih baik tidak menulis daripada menulis tapi kosong, alias tidak berisi apalagi berasa.

Target yang ingin digapai Dino adalah naskahnya bisa masuk ke Lelakon, yaitu festival naskah di Indonesia. Ia sempat mengirim salah satu naskahnya ke sana yang berjudul Bisikan-bisikan, namun belum bisa tembus. Jika sebuah naskah bisa masuk ke Lelakon, penulisnya akan mendapat pengakuan sebagai penulis naskah. Selain itu naskah yang lolos akan diterbitkan oleh Dramatik Reading Festival, di London.

Suara adzan mengumandang, menghentikan sejenak obrolan yang hangat diantara kami. Lepas adzan kuucapkan terima kasih atas waktu luang dan catatan perjalanannya sampai di sini. Terakhir dia menutup perjumpaan kali ini dengan sebuah kalimat, “Orang-orang beranggapan bahwa orang yang merasa sakit hati itu tulisannya akan lebih mengena ke pembaca, tapi menurutku itu hal yang tidak masuk akal dan bersifat narsistik. Jadi aku tidak mengamini hal itu. Menulis itu bukan suatu hal yang bisa diremehkan dengan cara ketika kita suntuk, sakit hati itu enggak. Menulis itu harus benar-benar ada rasa.”

Reporter : Denies Verawaty
Penulis : Denies Verawaty
Editor : Elsa
Redpel Media Online : Nurul

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *