Dimana Suara Mahasiswa


Wahai kalian yang rindu kemenangan/
wahai kalian yang turun ke jalan/
demi mempersembahkan jiwa dan raga/
untuk negeri tercinta/
Lirik yang sudah tak asing lagi bagi mahasiswa-mahasiswa diseluruh penjuru negeri ini. Lirik lagu tersebut memang seakan menggambarkan fungsi dan perjuangan dari mahasiswa, namun apakah hari ini memang seperti itu realitanya? Sungguh miris jika terus menerus keadaan kita seperti ini, sebagai mahasiswa. Nantinya akan jadi seperti apa nasib masyarakat bahkan Negara ini? Ataukah hanya menjadi wayang yang didalangi oleh mereka yang lapar dengan Jabatan?
Menurut Knopfemacher (dalam suwono, 1978) mahasiswa merupakan insan-insan calon sarjana yang terlibat dalam suatu instansi perguruan tinggi, dididik serta diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa memang menjadi ujung tombak dari suatu bangsa, maka semakin baik pula bangsa tersebut.
Namun demikian, tidak sesuai dengan realita bahkan sejarah yang tertulis. Keadaan seperti ini cukup miris. Pada dasarnya mahasiswa cukup tahu dengan permasalahan-permasalahan pada saat ini, salah satunya yang pada hari ini cukup ramai dipermasalahkan seperti “Perjanjian Kemitraan Komprehnsif UE-Indonesia (IUE-CEPA)”. Masalah ini merupakan pernyataan bersama masyarakan sipil Indonesia dan Uni Eropa. Kami percaya bahwa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif UE-Indonesia (CEPA) pertama-tama harus didekati sebagai sarana untuk melayani kepentingan umum.
Dari permasalahan yang ada, semestinya membutuhkan penjelasan yang cukup dari beberapa belah pihak, namun yang ikut andil bahkan faham mengenai hal tersebut cukup minim dari kalangan kita, tentunya mahasiswa. Setidaknya mahasiwa dari Fakultas Hukum serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang aktiv dan ikut andil dalam permasalah tersebut,, karena dari kalangan merekalah yang nantinya akan mengkaji perihal perekonomian dan hukum yang ada didalam (IUE-CEPA).
Dimana suara kalian? Ataukah hanya disibukkan dengan tugas-tugas kampus yang hanya menjanjikan kalian untuk menjadi kader-kader apatis, pragmatis bahkan kaum cukong kampus!. Tak semestinya kita menjadi mahasiswa sepeti itu, banyak permasalah-permasalahan disekitar kita. Namun jika mahasiswa hanya sebatas melihat bahkan acuh tak acuh terhadap masalah yang ada, maka perbudakan semakin merajalela dan nantinya akan hanya tercipta generasi-generasi muda yang besar dari nama kampus kebanggaan.
Mari kita bangkit, menjunjung tinggi kembali semangat mahasiswa. Memiliki satu komando dan satu suara, yang hanya berorietasikan satu yaitu Asas Kemanusian dan Asas Keadilan, demi kemaslahatan rakyat dan Negara. By :Ibrahim Anwar

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *