Dekonstruksi Stigma Ahmadiyah dan Keberagaman

Panas terik matahari di bulan suci Ramadan tak terasa perih lagi di kulit kami. Arah panah di dalam GPS ponsel sepertinya sudah sampai pada titik yang dikoordinasikan tetapi kami tak melihat tanda–tanda adanya gedung sekretariat milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Maka kami memutuskan memarkir kendaraan di dekat kantor Kelurahan Baluwarti, Surakarta. Baru saja kami turun dari kendaraan, sayup- sayup seseorang memanggil kami dari seberang jalan, lantas kami menoleh ke arahnya dan ternyata itu adalah Mubaligh Ahmadiyah. Kami pun beranjak mengikutinya.

Perasaan kami begitu senang sekaligus tegang, tak pernah menyangka kami bisa menapakan kaki langsung di gedung sekretariat mereka. Tempat itu lumayan luas, di depan halaman gedung itu terdapat lapangan olahraga yang lumayan lebar, di halaman itu kami memarkirkan motor.

Kami dipersilahkan masuk dan duduk di sofa yang sangat empuk. Kesan pertama saat kami bertemu Muhaimin selaku mubaligh dari kelompok ini sangat mengejutkan, betapa ramahnya ia menyambut kedatangan kami dan tuturkatanya saat menjawab pertanyaan- pertanyaan yang mungkin sedikit sensitive sangatlah berbanding terbalik dari opini yang berkembang di luar sana. Jawaban dari pertanyaan mengenai apa itu Ahmadiyah saja sepertinya cukup untuk meruntuhkan asumsi yang beredar.

Di tengah gejolak isu-isu sosial dan persoalan keberagaman, sering kali muncul berbagai spekulasi yang tak jarang menuai berbagai tindakan radikal yang menyebabkan salah satu atau beberapa kelompok social mengalami diskriminasi secara verbal atau fisik, sehingga membuat situasi semakin tak aman bagi kelompok tersebut. Misalnya saja ketika mereka bertindak sebagai warga negara yang seharusnya dilindungi secara hukum malah dijatuhi bermacam-macam persekusi baik dari kalangan politisi, agamawan, akademisi bahkan masyarakat pada umumnya.

Lembaga Pers Mahasiswa Locus IAIN Surakarta mencoba menelusuri tentang salah satu kelompok Islam yaitu Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Adanya desas-desus sebagai aliran ‘sesat’ dan keberadaanya seolah menjadi momok karena pergerakannya dinilai dapat meruntuhkan keyakinan umat Islam secara umum menguatkan tekad kami untuk menemui mereka.

“Ahmadiyah merupakan kelompok dalam Islam sama halnya dengan yang lain seperti NU, MUHAMMADIYAH, jadi Ahmadiyah adalah kelompok dalam Islam bukan kelompok sempalan dari Islam atau di luar Islam. Kenapa namanya Ahmadiyah? Hal ini bukan karena pendirinya Mirza Ghulam Ahmad, tapi tujuanya supaya pengikut Ahmadiyah mengikuti sifat – sifat nabi Muhammad SAW”, tutur Muhaimin (04/22).

Ia menerangkan bahwa di Q.S Ash-Shaff nama Muhammad telah disebutkan dengan nama Ahmad, jadi dari situlah nama Ahmadiyah dipakai, namun tetap tujuannya yaitu mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW. Nama Ahmad ini lebih menonjolkan sifat kejamalannya, sifat keindahan, kelembutan, pemaaf dari Rasulullah SAW, dan sifat-sifat inilah menjadi ciri khas dari gerakan Ahmadiyah yakni menggunakan kelembutan tidak menggunakan cara kekerasan.

Berdasarkan definisi yang sudah dibakukan secara internasional oleh Ahmadiyah, Ahmadiyah adalah jamaah Islam yang bergerak di bidang keagamaan, tidak berpolitik. Tujuanya adalah mengembalikan Islam kepada bentuknya yang asli sebagaimana Islam itu dibawa oleh nabi Muhammad SAW untuk seluruh dunia. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah mendirikan jamaah Ahmadiyah dengan perintah Allah pada tahun 1889 M di Qadian, India. Atas perintah Allah SWT beliau pun memproklamirkan diri sebagai Al – Masih dan Al – Mahdi yang dijanjikan (Majalah At – Taqwa, jilid 24, No. 12 Jumadil – Ula dan Tsaniah 1432 H/ April 2012). Di Indonesia sendiri, Jamaah Islam Ahmadiyah tersebut menggunakan nama “Jemaat Ahmadiyah Indonesia” yang diakui sebagai badan hukum melalui penetapan Menteri Kehakiman tertanggal 13 Maret 1953, No. J.A5/23/13.

Maka dari sinilah dapat sedikit disimpulkan mengenai Ahmadiyah bahwasanya ada sedikit penafsiran atau pemahaman yang berbeda mengenai konsep Al – Masih dan Al – Mahdi bahwa ia sudah datang ke bumi. Mengenai syahadat, shalat, puasa dan yang lainnya itu sama dengan pemahaman pada umumnya. Mubaligh yang sudah 20 tahun mengikuti kelompok ini menimpali bahwasanya jika ada pernyataan kalau Ahmadiyah syahadatnya lain, shalatnya lain, tempat hajinya lain, kitabnya lain itu hanyalah HOAX semata yang terlontar dari orang yang kurang simpatik atau orang dengan kepentingan menjatuhkan kelompok ini.

Adapun pemahaman tentang nabi Muhammad sebagai Khootaman-Nabiyyin, Ahmadiyah menyakini bahwa Khootaman-Nabiyyin yang dimaksud adalah nabi yang paling mulia, paling afdhol, hiasan para nabi, dan jika dikatakan sebagai penutup para nabi pun itu tertuju pada makna sebagai penutup para nabi yang membawa syariah, kalaupun ada nabi setelah nabi Muhammad pasti akan mengikuti syari’at Nabi Muhammad SAW, seperti nabi Isa yang akan datang pada akhir zaman tidak akan membawa syariat baru, dan menurut Ahmadiyah Nabi Isa yang turun di akhir zaman bukanlah nabi Isa yang dulu yang turun kepada Bani Israil, tetapi Orang lain dengan spirit al-masih.

Menurut pemahaman mereka nabi Isa diutus untuk Bani Israil dan yang diutus untuk seluruh dunia ialah nabi Muhammad dan yang diutus setelah nabi Muhammad yang dimaksud sebagai Isa akhir zaman yang kedatangannya dijanjikan Rasulullah SAW hanya gelarnya saja bukan benar-benar nabi Isa yang dulu. Dikatakan Al-Masih juga karena banyak kesamaan dengan nabi Isa yang dulu. Jadi gelarnya Isa Al – Masih yang dijanjikan itu juga Imam Mahdi karena nabi Muhammad pernah bersabda “tidak ada Mahdi kecuali Isa Ibnu Maryam” jadi Isa dengan Al – Mahdi itu satu sosok dengan dua gelar yaitu gelarnya nabi Isa dan Iman Mahdi.

“Gelar Isa itu sebuah isyarat yang berhubungan dengan tugasnya berdakwah kepada saudara – saudara kita yang kristiani dan gelar Imam Mahdi itu isyarat sehubungan dengan tugas beliau untuk umat Islam dimana hadits menyebutkan Imam Mahdi akan menjadi hakim yang adil, mematahkan keyakinan salib dan menghilangkan peperangan serta tugas beliau yang lainnya. Jadi kami meyakini Mahdi yang dimaksud itu bertugas menghilangkan peperangan bukan Mahdi yang datang membawa pedang dan memimpin peperangan. Sama halnya Isa yang dulu menyebarkan cinta kasih dan Ahmadiyah pun dengan menisbahkan Namanya pada sifat Jamaliyah Nabi Muhammad adalah untuk menebarkan damai dan cinta kasih. Yah sebatas itulah mengenai perbedaan penafsiran Al-Masih, Al-Mahdi dan Khootaman-Nabiyyin.” Jelas Muhaimin (04/22).

Seiring berjalanya waktu pergolakan dan dinamika politik di tanah air yang sudah tidak sehat lagi, isu agama mulai menjadi alat untuk memecah belah kehidupan bangsa dan negara salah satunya Ahmadiyah yang selalu dikambinghitamkan menjadi kelompok perusak akidah. Padahal sejak Ahmadiyah berdiri di Indonesia tahun 1925, Ahmadiyah merupakan kelompok yang aktif ikut serta memperjuangkan kemerdekaan seperti sosok W.R Soepratman pencipta lagu Indonesia Raya.

Selain W.R. Soepratman yang ikut memperjuangkan kemerdekaan adalah R. Mohammad Muhyidin tahun 1946 yang saat itu menjadi ketua Hoofdbestuur Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai pegawai Tinggi Kementrian Dalam Negeri, aktif dalam mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta, tahun 1946 diangkat pemerintah sebagai Sekretaris Panitia Perayaan Kemerdekaan RI yang pertama. Sedianya beliau akan memegang Sang Merah Putih di muka barisan, namun 8 hari sebelum peringatan Proklamasi yang pertama itu beliau telah diculik oleh Belanda dan hingga kini hilang tak tahu rimbanya. Muballigh Ahmadiyah, Abdul Wahid HA. dan Malik Aziz Ahmad Khan aktif sebagai penyiar RRI untuk siaran Bahasa Urdu di Yogyakarta tahun 1945 untuk memperkenalkan kemerdekaan Indonesia ke benua India.

Masih banyak lagi pejuang kemerdekaan dari Ahmadiyah yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Bahkan Bapak Proklamator Kemerdekaan RI pernah menerima Al-Qur’an terbitan Ahmadiyah yang diberikan oleh Muballigh Ahmadiyah, Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jailani yang juga sebagai pejuang kemerdekaan RI. yang mana tgl.11 Maret 1947 diangkat oleh Presiden RI Pertama, sebagai pegawai tinggi pada jawatan penerangan dan hubungan luar negeri di kementerian penerangan RI.

Dari 12 Orang yang menemani Bung Karno pindah dari Yogyakarta ke Jakarta, satu satunya orang luar negeri yang dipercaya adalah muballigh Ahmadiyah tersebut, yaitu Maulana Sayyid Shah Muhammad karena berbagai jasanya dalam merebut kemerdekaan. Muballigh Ahmadiyah ini mendapat berbagai surat piagam Penghargaan termasuk hadiah kewarganegaraan Indonesia dari Presiden. Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi diceritakan kiprah Ahmadiyah menurut Ir. Soekarno. Beliau dan Bung Hatta juga menggandrungi tafsir karya Jemaat Ahmadiyah yang berjudul tafsir The Holy Quran.

Tahun 1965 Font Arab (tulisan khas Bahasa Arab) Al-Qur’an terjemahan DEPAG RI menggunakan Font Arab versi Jemaat Ahmadiyah, 15 tahun sesudah terbitan Ahmadiyah dalam Bahasa Inggris. Pada bagian Muqaddimah Bab Dua hal. 37-48 (12 halaman) : Nabi Muhammad SAW bersub judul Perlunya Al-Qur’an Diturunkan terbitan DEPAG RI itu mengcopy dari Pengantar Mempelajari Al-Qur’an karya Khalifah Ahmadiyah yang ke-2, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a., bisa dilihat di Al-Qur’an DEPAG RI cetakan tahun 1978, 1980 dan 1981 yang masih mencantumkan The Holy Qur’an pada daftar referensinya. Namun kemudian nama The Holy Qur’an dihilangkan dari daftar referensinya.

Lepas dari romansa masa lalu, Ahmadiyah melakukan perjuangan kemerdekaan bersama tokoh – tokoh revolusi Indonesia, stigma sesat mulai digaungkan oleh MUI pada tahun 1998 dan diperkuat dengan fatwa lagi pada tahun 2005 imbasnya, fatwa ini memicu tindak kekerasan atas nama agama yang diterima oleh Jemaah Ahmadiyah. Gerakan radikal yang menyasar tempat – tempat yang menjadi basis Ahmadiyah termasuk rumah pribadi Jemaah Ahmadiyah dan tempat ibadah.

Tidak berhenti disitu saja bahkan ketika anggota Jemaat Ahmadiyah hendak melaksanakan ibadah haji ke Mekkah dilarang, dan ketika ada yang ingin menjadi pejabat publik harus keluar dari Ahmadiyah dahulu. Diskriminasi itulah yang membatasi Jemaah Ahmadiyah untuk bergerak dan berpartisipasi sebagai warga negara lalu diperparah lagi dengan fatwa – fatwa sesat dari MUI.

Lalu bagaimanakah Fatwa MUI No.11/ MUNAS VII/MUI/15/2005 sehingga menimbulkan gejolak persekusi dari berbagai macam kalangan terhadap Ahmadiyah? Coba telisik kembali fatwa tersebut dimana tertulis dalam dokumen menyatakan; 1. Menegaskan kembali fatwa MUI dalam Munas II tahun 1998 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar islam, sesat dan menyesatkan, serta orang islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari islam), 2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran islam yang haq (al-ruju` ila al-haqq), yang sejalan dengan Al – Quran dan al – hadis, 3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatanya.

Berdasarkan Laporan Kebebasan Beragama dan toleransi di Indonesia the Wahid Institute tahun 2011 menunjukan tren kenaikan tindak pelanggaran intoleransi dengan korban utama adalah kelompok – kelompok minoritas. Tepatnya pada minggu 6 Februari 2011,terjadi serangan mematikan kepada jemaat Ahmadiyah di Desa Umbulan, Cileusik, Pandeglang, Banten. Tiga orang jemaat Ahmadiyah tewas dengan cara mengenaskan. Video kekerasan itu sempat beredar di kancah dunia maya. Namun kini ditutup YouTube karena menampilkan kekerasan tidak manusiawi. Selain korban meninggal, terdapat dua mobil, sebuah motor, dan sebuah rumah hancur diamuk massa. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Tragedi Cikeusik (intoleransi ; Alamsyah M Dja`far). Hal ini merupakan salah satu kasus dari dampak Fatwa yang dilontarkan MUI pada organisasi Ahmadiyah.

Menurut Muhaimin suatu fatwa tidak bisa menjadi alasan seseorang dapat melabeli suatu kelompok sebagai aliran sesat karena itu adalah hak prerogative Allah Ta’ala. ia juga beranggapan bahwa selama tidak menyimpang dari ideologi Pancasila dan mematuhi UUD 1495 seseorang harusnya mendapat kemerdekaan untuk menjalankan keyakinanya tanpa adanya gangguan dari pihak manapun.

Pria paruh baya itu juga bercerita mengenai tindak diskriminasi yang sering menimpa kelompoknya, Jemaat Ahmadiyah dalam menyikapi situasi ini adalah dengan menebar cinta. Maksudnya mereka tidak membalas perbuatan itu dengan kekerasan pula karena pada hakikatnya orang Islam itu adalah ketika orang lain selamat dari lisan dan tanganya. Ia menambahkan bahwasanya jika ada seseorang yang berteriak Allahu Akbar kemudian menghancurkan masjid dan memukul saudaranya, maka perilaku orang tersebut tidak sesuai dengan ajaran cinta kasih dalam Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Bagaimanapun Ahmadiyah menerima banyak pertentangan dari berbagai pihak, namun mereka tetap Istiqamah agar tetap eksis karena ibadahlah yang mereka perjuangkan.

Sinar matahari mulai pudar, obrolan kami dijeda oleh suara adzan seolah mengingatkan dan memberi tahu kami untuk menyudahi ibadah puasa, saat itu juga Mubaligh itu menawarkan jamuan untuk berbuka puasa. Lalu kamipun menyantap hidangan yang disuguhkan. Sesudahnya kami pun berpamitan dan diberi kesempatan untuk berfoto bersama Muhaimin dan anggota Ahmadiyah lain yang sangat ramah menyambut kami disana.

Satu tulisan yang terus terpaku dibenak kami yang terpampang di atas pintu ruangan itu. Tulisan yang mempunyai makna mendalam, harusnya tulisan itu dapat menjadi pedoman bagi segala yang mengaku manusia. Kalimat itu juga dijadikan motto oleh Jemaat Ahmadiyah. Bunyinya begini love for all hatred for none.

Reporter : Sayyidah Marhamah, M Hermawan
Penulis : M Hermawan
Editor : Elsa L
Redpel : Nurul F

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *