Covid-19 dan Sikap Tauhid

Dunia sedang bersedih, dunia sedang berduka, dunia sedang berkabung. Bumi pun kini sedang meneteskan air mata kepedihannya. Kabar kematian banyak berdatangan. Dari Tiongkok, Jepang, Korea, Singapura, Italia dan negara-negara lain. Kita semua menundukkan kepala, menengadahkan tangan, berdoa agar wabah segara selesai dan tuntas teratasi. Dan semoga yang telah tiada, beristirahat dengan tenang. Aamiin…

Begitulah secara eksplisit tidak langsung pembuka awal tulisan berjudul, “Berdoa Kepada Tuhannya Korona” yang ditulis oleh Budayawan Sufi, Candra Malik.

Wabah covid-19 memang telah begitu meluas penyebarannya. WHO telah menetapkan wabah ini sebagai pandemi. Yang telah dengan ganas memakan banyak korban jiwa. Memang tidak mungkin bisa kita elakkan penyebaran virus corona untuk sampai ke tanah air kita tercinta. Sudah tercatat data-data mengenai kasus Corona ini di Indonesia beserta penyebarannya.

Kemudian pemerintah, baik pusat maupun daerah telah mengeluarkan putusan lockdown sebagai upaya preventif atas wabah virus yang diduga awal mula permuculannya dari Wuhan ini.

Sekolah-sekolah dialihkan pembelajarannya yang semula melalui tatap muka berganti dengan model daring atau online. Juga banyak kampus-kampus yang diberhentikan sementara kelas muwajahah-nya dengan berganti ke metode penugasan, tugas struktur, juga dengan model online pula.

Aktivitas masyarakat pun banyak yang diberhentikan sementara ini. Masyarakat dilarang mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Masyarakat dilarang menghadiri atau berkumpul secara massif dan saling kontak fisik. Masyarakat dianjurkan untuk mengisolasi atau mengarantina diri di dalam rumahnya masing-masing agar penyebaran virus corona dapat dihentikan dan tidak menyebar kemana-mana. Bahkan jama’ah untuk pelaksanaan sholat fardhu dan jum’at mungkin berpotensi juga untuk diberhentikan.

Kemudian, dari hal ini muncul banyak sekali edukasi-edukasi tentang covid-19: perihal gejalanya, cara penyebarannya serta bagaimana upaya pencegahannya. Sudah banyak iklan mengenai korona, disusul diskusi-diskusi ilmiah bertemakan korona dan masih banyak lagi.

Selalu mencuci tangan memakai sabun adalah hal utama yang harus dilakukan, selain memakai masker. Juga pemakaian saniziter secara berkala menjadi pendukung yang juga harus dilaksanakan. Itulah sebagaian tahapan atau upaya akan adanya wabah virus ini dari tingkat paling kecil, di samping tentuya menggalakkan budaya hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan. Tetapi, kalau kebutuhan masker dan saniziter mengalami pelambungan harga sampai tiga kali lipatnya, bagaimana dengan mereka yang untuk makan saja harus meminjam uang tetangga.

Namun cukupkah hanya dengan itu?

Kalau Anda telah membaca tulisan Gus Candra Malik, kita disuruh atau dianjurkan pula untuk berdoa kepada Tuhannya corona tersebut. Tetapi, apakah corona itu mempunyai Tuhan, lalu siapa Tuhannya corona? Setiap makhluk, organisme, bakteri dan virus pun pasti memiliki Tuhan, bukan?

Adakah sesuatu muncul dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Meski itu adalah hasil rekayasa genetika manusia sekalipun, tidakkah semua itu juga berasal dari Tuhan yang Maha Menciptakan. Atau setidaknya Tuhan memberikan izin agar mampu untuknya terciptakan. Kalau kita “ilmiah” dan paham kausalitas masalah sebab-akibat, bukankah muara setiap makhluk hidup di semesta ini jika dirunut akan sampai akhirnya kepada Tuhan, sebagai causa prima. Sebab utama. Dia-lah segala asal-usul dunia dan segala isinya.

Siapakah pemilik sejati kehidupan dan kematian. Siapakah pemilik otoritas mutlak atas jalannya kehidupan kita, khususnya, jika bukan Tuhan itu sendiri.

*

Ada lima manthiq atau logika berpikir mengenai coronavirus yang beberapa hari lalu dituliskan oleh budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun):

Pertama, tak seorang pun kecuali Allah yang mengetahui ‘ainul hal dan asbabun nuzul coronavirus: kenapa dilimpahkan saat-saat ini, kenapa harus dari Wuhan yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia dan tentang berbagai kenapa yang lainnya. Kedua, tak satu pun manusia di dunia ini yang mampu menjamin dirinya merdeka dari coronavirus ini. Termasuk orang yang paling sehat badannya, yang paling benar pola hidupnya dan yang paling baik akhlak dan perilakunya. Ketiga, manusia yang dilimpahi coronavirus bukan berarti manusia yang paling berdosa, dan yang terhindar bukan pula manusia yang paling berpahala. Sebab semua regulasi dan sebab-akibat dalam kehidupan mutlak berada dalam lingkup “innallaha ‘ala kulli syai’in qadir” dan “min haitsu la yahtasib” Allah yang manusia tidak akan mampu menghitung dan merumuskannya setinggi apapun ilmunya dan seluas apapun pengetahuan yang dimilikinya. Keempat, jika memang coronavirus adalah azab atau balasan dari Allah: yang mendekati batas rasionalitas manusia adalah coronavirus tersebut dilimpahkan oleh Allah atas dua alasan. Pertama: sikap takabur, kesombongan dan pengingkaran ummat manusia dalam peradaban abad 21 terhadap ada dan peran Allah atas berlangsungnya kehidupan mereka, melebihi Iblis. Manipulasi mereka atas nilai-nilai kehidupan melebihi Dajjal. Serta keserakahan dan tak tahu batas nafsu mereka melebihi Ya’juj Ma’juj. Kedua: kebudayaan dan sikap hidup global ummat manusia yang dalam pembangunannya jelas sangat menomorsatukan dunia, materialisme dan hedonisme, sekaligus mengkhianati Allah dengan konsep akhirat-biyadihil khoir-Nya. Kelima, Allah melimpahkan coronavirus bisa merupakan bentuk azab, hukuman dan balasan, atau bisa juga berupa rahmat, ujian atau peringatan, bergantung pada sikap, pilihan, positioning yang diambil oleh manusia sendiri.

Tentu dengan adanya lima logika coronavirus di atas, membuat kita harus mau untuk menghisab dan menghitung diri sendiri. Kemudian kita renungkan dalam-dalam dan kita sangkut-pautkan pola perilaku hidup kita yang selama ini kita jalani dengan limpahan virus corona yang sudah menjadi pandemi saat ini. Mungkin saja memang benar ada kaitannya melimpahnya coronavirus ini dengan sikap hidup yang kita pilih dan kita terapkan.

Maka, munculah anjuran atau himbauan yang dikeluarkan oleh para pemuka agama dan tokoh-tokoh spiritual kita, seperti misalnya Gus Mus dan Maulana Habib Luthfi serta tokoh-tokoh lainnya, mengenai upaya menangani wabah corana ini dengan cara banyak melakukan dzikir dan wirid yang tujuan utamanya adalah mendekatkan diri kepada Allah, yang juga adalah Tuhannya virus bernama corona itu sendiri. Agar apabila wabah ini adalah azab atau hukuman atau peringatan kita tersadarkan untuk membenahi dan semoga diampuni. Apabila ini rahmat semoga kita dibarokahi. Dan apabila ini adalah ujian semoga terangkat derajat kita di hadapan mata Allah.

Kenapa saya dalam tulisan ini, lebih menonjolkan rujukan kepada para budayawan dan para tokoh pemuka agama. Sebab, saya kira sudah banyak dimedia-publikasikan hal-hal preventif dan cara mengatasi coronavirus ini oleh para ilmuwan, pakar kesehatan dan ahli-ahli virologi serta kaum akademisi-intelektual lainnya, termasuk para jajaran yang duduk di staf-staf pemerintahan dan negara.

Tentunya akan menjadi kekosongan belaka jika upaya penanganan wabah ini hanya lewat teori-teori dan praktik “ilmiah” saja. Di mana di situ wilayah spiritualitas kurang begitu mendapatkan tempat. Tetapi, hal ini juga bukan berarti bentuk ketidakpercayaan atas segala upaya yang telah susah payah dilakukan. Bukankah lebih kuat dan lebih meyakinkan lagi kiranya upaya “ilmiah” yang kita lakukan juga dibarengi lewat upaya “spiritualitas” diri kita pula. Bukankah kita ini juga negara yang mayoritas penduduknya adalah kaum beragama yang percaya akan adanya Tuhan beserta peran-Nya.

Kita tahu bahwa akal kita ini memiliki keterbatasan, maka tentunya memprimerkan dan menjadikan Tuhan sebagai pertimbangan utama sangat perlu dan bukan merupakan bentuk kebodohan, bukan?

Kita juga tahu bahwa akal tidak bisa kita dewakan, apalagi kita tuhankan. Maka, kita seharusnya menjernihkan pikiran kita ini dari “dhonnun salibiyun” atau prasangka-prasangka intelektual yang mengandung destruktif; membersihkan hati kita dari sikap takabbur, sombong, mungguh, dan GR; serta juga mensucikan jiwa kita dari “aba wastakbar”, yakni dengan bertasbih dari segala dimensi dan energi Iblis, hingga sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya.

Lalu menyadarkan secara keselurahan, bahwa kita ini hanyalah hamba Allah yang berposisi sangat bergantung akan kemurahan rahmat-Nya. Tempat tinggal kita hanya berada di wilayah “semoga”. Profesi utama kita adalah tawadhu’, berhati-sujud di kaki kekuasan Allah. Ideologi kita hanyalah tawakkal. Jihad utama kita ialah senantiasa sumeleh atas qada’ dan qadhar Allah dan ujung tujuan kita hanyalah pada ujung keridhaan-Nya atau minimal tidak dimurkai oleh-Nya.

Memang selain pandai dalam mengolah dan mendayagunakan akal kita sebagai “anugerah terbesar” manusia, kita juga harus mampu pula untuk mendayagunakan hati dan jiwa kita supaya tetap terjaga kesehatan batin kita, serta juga akal kita. Mentradisikan kesehatan antara dua instrumen tersebut, yakni akal dan jiwa, kemudian juga menyelaraskannya merupakan gerbang awal untuk mendapatkan kehidupan yang akan senantiasa dilindungi dan diridhai oleh-Nya. Serta, di lain sisi juga kita harus selalu giat merawat kesucian diri-raga kita dengan senatiasa “menjaga” wudhu sepanjang siang dan malam.

Ketersinambungan akal dan jiwa kita akan mampu untuk senantiasa mengaplikasikan firman-firman Allah sebagai dzat penjaga kesehatan dan kearifan hidup kita. Dan senantiasa pula untuk sanggup menqur’ankan ruang dan waktunya sepanjang kehidupan. Membawa selalu ayat-ayat Al-Qur’an sebagai wirid penjagaan dan perlindungan, serta manjadikan “Luthfi Muhammad” sebagai tonggak dan pijakan dalam mengarungi perjalanan kehidupan kita.

Siapakah yang menjamin keselamatan atas kehidupan kita, atau sekiranya ketika datang sebuah atau segerombol pasukan yang hendak merenggut hidup kita, bukankah hanya “ajal”-lah benteng terakhir kita, bukankah hidup-mati kita hanya untuk Allah yang selalu kita ikrarkan dalam setiap tegaknya sholat, dan bukankah urusan mati-hidup merupakan hak otoritas sekaligus prerogatif Allah?

Akan tetapi, kita tetap dianjurkan untuk senantiasa ikhtiar dan tawakkal. Semoga adanya wabah covid-19 ini menjadikan sikap “tauhid” hidup kita lebih menebal dan kuat. Kita tata kembali hati dan pikiran kita. Kita luruskan kembali pilihan-pilihan hidup kita. Kita tegakkan kembali rohaniah-jasmaniah kita untuk selalu berdekatan dengan cinta-Nya. Semoga pula wabah ini cepat berlalu tertiup oleh “angin” surga-Nya, dan kehidupan dapat “waskita” berjalan sebagaimana yang kita harapkan, agar tentunya kita dapat segera bergegas untuk membenahi sikap hidup ke arah yang lebih baik dan menyelamatkan.[]

_Ahmad Miftahudin Thohari

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *