Buku dan Foto

Buku mengabadikan sejarah insan manusia. Dikalangan mahasiswa pecinta buku, buku dianggap keramat yang tidak boleh diperlakukan secara sembarangan. Memfoto buku baru dan mengunggahnya dimedia sosial menjadi ritual yang kerap saya temui dalam status whatsapp teman-teman sesama mahasiswa.

. Buku tidak bisa dimaknai sebagai kumpulan kertas yang berisi tulisan saja. Kita bisa bertemu dengan penulis dalam buku. Membaca buku bagaikan bergulat dengan pemikiran penulis. Menyetujui, menolak bahkan turut taklid dengan buku merupakan  hal yang mainstream. Sebagai pembaca tidak jarang kita ditelanjangi dengan ketidaktahuan. Buku bisa membuat seseorang lebih moderat dalam memandang suatu masalah.

Mahasiswa dan buku sudah menjadi kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Dalam perkuliahan tidak sedikit dosen yang menyuruh mahasiswa membawa buku saat berlangsungnya perkuliahan. Hal ini merupakan anjuran untuk mahasiswa agar otaknya tidak kosong, dan mempunyai bekal argumen yang pas saat di kelas. Bahkan salah satu dosen memberi wasiat untuk membawa buku asli, tidak buku bajakan. Beliau menguraikan bahwa menenteng buku asli dengan harga yang lumayan menguras kantong akan memberikan rasa percaya diri pada mahasiswa. Kedengarannya terasa janggal, membeli buku untuk dipelajari dan diserap ilmunya tidak terselip dalam wejangan di kelas itu. Kepercayaan diri bisa tumbuh dengan sekadar membawa buku, tanpa memahami isinya. Bukankah ini suatu hal yang aneh?

Memiliki buku dan membaca buku semestinya menjadi kebutuhan pokok mahasiswa yang dilaksanakan tanpa adanya anjuran resmi dari dosen. Memberi nutrisi pada otak merupakan bukti cinta kasih terhadap diri. Buku diktat dan buku bacaan bukan dua hal yang harus dipisahkan atau diunggulkan satu sama lain. Setiap buku mengandung informasi yang bisa ditelaah dengan kesadaran diri guna menggali pengetahuan.

Teringat pada penceritaan dalam novel Laut Bercerita karya Laila S. Chudori membaca buku pada masa orde baru dilakukan secara sembunyi sembunyi. Bahkan diungkapkan sampul buku sengaja dicetak putih, supaya mahasiswa dapat membaca dengan leluasa tanpa merasa dicurigai. Dugaan saya buku  menjadi rahasia dan kekuatan bagi mereka untuk menciptakan strategi baru. Slogan “berbuku berilmu” masih relevan dan payu. Menjadi bahan diskusi yang menghidupkan sendi-sendi pemikiran mahasiswa agar tidak layu. Buku juga menjadi saksi kerinduan keluarga kepada anak yang hilang dan tidak kembali. Pemaknaan buku yang mendalam menjadikan mahasiswa bertanggung jawab atas buku yang ia beli, menyelesaikan dan merawatnya dengan baik.

Foto dan Buku mempunyai persamaan fungsi dalam pengabadian diri. Keduanya mempunyai fungsi memperkenalkan penulis dan model pada khalayak. Namun akhir-akhir ini saya menemui para pembaca buku sudah mulai percaya diri memfoto buku dan memamerkannya kepada khalayak untuk menunjukkan  kesukaannya terhadap buku. Menyoal tentang buku yang menjadi tren model dengan difoto berbagai gaya untuk penjualan tentu sah-sah saja.  Kali ini buku dan kutu buku zaman now mulai berubah. Membeli buku dan memamerkan buku akan mendukung eksistensi mereka. Mulai buku yang mahal, penting, langka semua mulai difoto dengan pose yang indah. Properti seperti kopi, dan senyum bahagia terpampang sebagai wujud kemenangan. Buku mulai menjadi petunjuk kasta seseorang.

Membaca buku dengan menunduk kebawah memberikan isyarat bahwa kegiatan membaca mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati. Dengan mengunggah foto entah dibuat status berserta caption yang menunjukkan kebanggaan terhadap buku merupakan bentuk kesombongan. Pembacaan buku yang semestinya menjadi obat justru menciptakan dua hal yang kontras dan lucu.

Dalam hal ini para pecinta buku mulai tersesat dalam kesantunannya.  Penghormatan pada buku bisa kita lakukan dengan membacanya secara keseluruhan. Menceritakan isi buku kepada teman sebagai wujud refleksi pembacaan. Bahkan menuliskan resensi yang kita persembahkan sebagai wujud terimakasih pada buku yang telah memberikan ilmu. Mengabadikan diri dalam buku bisa menjadi bukti riil yang bisa dinikmati, bukan sekadar narsisme dan pencitraan.

Keimanan pembaca buku sedang diuji. Membaca buku merupakan Ibadah. Setiap peribadatan tidak harus diabadikan dengan senyatanya dalam bentuk foto. Mencintai buku dengan berswafoto bersama buku, memfoto rak buku, atau menyandingkan buku dengan secangkir kopi tidak akan membuat kamu benar eksis tanpa bersuara dengan ilmu yang didapatkan melalui pembacaan buku. Saatnya bertaubat.

Ning Tiyas Utami/Manajemen Bisnis Syariah

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *