Antara Ramadhan dan Menjadi “Manusia”

Oleh: Ahmad Miftahudin Thohari

Tak ada bulan yang lebih dinanti-nanti kehadirannya, melebihi kedatangan bulan suci Ramadhan bagi umat Islam, khususnya. Kalau dalam hari, Jum’at itu medapatkan sebutan Sayyidul Ayyam (penghulunya hari). Sedangkan dalam bulan, Ramadhan itulah sebagai Sayyidus Syuhur (penghulunya bulan).

Dan aku meyakini tidak ada yang lebih indah dari hari-hari dalam bulan Ramadhan, melebihi hari yang bertepatan dengan 17 Ramadhan. Hari di mana Maha Karya Agung (masterpiece) diturunkan, melalui Ruh Al-Amin untuk manusia Agung bergelar Al-Amin pula, Muhammad bin Abdullah. Ialah turunnya Kitab Suci paling otentik dan paling mukjizat di muka bumi, yakni Al-Qur’an al-karim. Yang kebenarannya la roiba fih. Yang turun sebagai penyempurna kebenaran kitab-kitab terdahulu atau sebelumnya.

“Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Memang bagi mereka yang suci hatinya dan peka batinnya, pastilah akan merasakan perbedaan asmotfer ataupun suasana religius-spiritual dari hari-hari lainnya, yang katanya begitu menyejukkan, bahkan bisa membuat hati terasa nyaman. Tapi bagaimana dengan mereka yang hatinya biasa-biasa saja, seperti aku dan engkau ini? Jika memang engkau berhati biasa, tidak suci-suci amat. Ambilah air wudhu, lalu pandanglah, hadapkanlah wajahmu ke langit Allah dengan sungguh-sungguh. Kemudian rasakanlah sebuah vibrasi suasana yang pasti lain, yang dapat engkau rasakan di kedalaman jiwa dan batinmu. Aku meyakini pula di dalam relung terdalam hatimu itu terdapat ruh yang suci, di mana di dalam itu bisa menjadi baitullah. Tempat untuk engkau temui Allah setiap saat, di mana pun dan kapan pun saja.

Maka iktikafkanlah hatimu, jiwamu, pikiranmu seluruh anggota badanmu. Tidak perlu di masjid (tempat sujud). Karena setiap engkau sujudkan ke semua dari perkenaan itu, bernama masjidlah ia —atau kalau mau di masjid juga lebih baik. Namun, perlu engkau ketahui di mana pun dan kapan pun saja, engkau bisa beriktikaf. Di dalam seluruh kesibukan aktivitasmu, di dalam lamunan perenunganmu, ketika engkau menunggu jadwal keberangkatanmu di terminal, stasiun, bandara bahkan ketika engkau menunggu orderan ojek-onlinemu. Juga ketika engkau duduk menaikinya, engkau bisa beriktikaf. Ketika engkau sibuk berjualan, menggoreng bakwan, membuat kue dan roti, mengerjakan tugas, mencangkul di sawah, sambil naik motor, menyetir mobil dan menikmati kopi serta rokok’an, engkau berhak dan dapat senantiasa beriktikaf.

Sebab, Allah itu di mana-mana dan tidak di mana-mana. Ia terlepas dari mekanisme waktu dan keberadaan ruang. Ia satu tapi menyeluruh. Ia tunggal tapi mencakup segala hal. Dia-lah satu-satunya Dzat yang ganjil tetapi penuh dengan kegenapan.

*

Kalau engkau orang desa, pastilah tradisi ambengan membawa makanan ke mushola atau masjid sangat identik di malam 17 Ramadhan. Sebagai bentuk penghormatan dan sekaligus ngalap berkah di malam Nuzulul Qur’an yang dahsyat itu. Mengenang betapa menggigilnya Kekasih tercinta, Nabi Muhammad saw. ketika menerima wahyu pertamanya untuk pertama kalinya, yang sekaligus secara resmi saat itulah beliau diangkat menjadi Rasul untuk menyebarkan rahmatan lil ‘alamin.

Malam ini di desaku turun hujan. Apakah hujan menghalangi sebuah jalan para Hamba yang hendak menyambut atau memperingati hari di mana kitab sucinya diturunkan pertama kali itu? Jawabannya lebih banyak, tidak. Sebab betapa mahal harga dari hujan itu sendiri bagi aku, engkau dan kita semua umat manusia. Dengan apa kita mampu membeli air hujan, jika bukan dengan rahmat kasih sayang-Nya? Allah turunkan hujan untuk membasahi bumi yang mungkin mengalami kekeringan. Kekeringan bumi akan keadilan, kesejahteraan, kebenaran dan kebaikan. Juga kekeringan-kekeringan yang dialami manusia, terutama di dalam hatinya.

Tidakkah turunnya hujan adalah rahmatullah, sehingga tidak salah kiranya aku dan engkau sedikit saja menerobos atau melewati guyuran air hujan yang sedang turun, dengan harapan diantara titik-titik cipratan air hujan itu terdapat dan termuat bingkisan rahmat yang mengenai tubuhku serta tubuhmu. Meski hanya satu titik cipratan.

Betapa dingin ketika Allah pertama kali mendatangkan wahyu-Nya (Al-Qur’an) kepada Kanjeng Nabi Kinasih lewat perantara Malaikat Jibril. Yang kemudian membuat Rasulullah menggigil sekujur tubuhnya, kemudian meminta diselimuti oleh Siti Khadijah.

Betapa Al-Qur’an juga sangat dingin perkenaan ayat sekaligus kemukjizatannya bagi para pemeluknya. Kesejukannya bahkan bisa dirasakan tidak hanya oleh orang islam, tapi juga seluruh manusia. Al-Qur’an tidak hanya huda lil-muttaqin saja, tetapi juga huda lin-nas.

*

Yang perlu aku dan engkau ketahui, sebelum Rasulullah mendapat wahyunya secara resmi, di mana di situ agama Islam mulai akan ditegakkan. Beliau lulus terlebih dahulu sebagai manusia, yakni manusia bernama Muhammad bin Abdullah dengan gelar Al-Amin -nya. Yang seluruh perjalanan sekaligus perjuangan hidupnya tidak serta merta mudah dan mulus-mulus saja. Sehingga ketika beliau lulus menjadi manusia, beliau berhak dan pantas mendapatkan tugas sucinya dengan diturunkannya wahyu berupa Al-Qur’an dan ajaran Islam. Rasulullah saw. adalah suri tauladan nomor satu di dunia. Di mana keseluruhan tatanan kosmos berada di dalam diri beliau. Nabi Muhammad adalah muslim “rabbani” yang ahsani taqwim.

Maka, tahapan awal agar aku dan engkau bisa menjadi muslim dengan tingkat ketaqwaan yang “rabbani” atau setidaknya yang mendekati itu. Adalah lulus terlebih dahulu menjadi manusia sebagaimana Muhammad bin Abdullah dengan gelar al-Amin, yang dapat dipercaya itu. Jadilah aku dan engkau terlebih dulu sebagai manusia yang benar-benar lulus sebagai manusia yang mampu memanusiakan manusia, sebelum benar-benar kaffah memasuki Islam. Bisa dikatakan, menjadi manusia terlebih dahulu lebih diutamakan sebelum memasuki pintu gerbang kemusliman. Sebab tidak ada muslim atau nilai agama yang ingin menjadikan pemeluknya tidak menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia.

Dalam kesendirian dan do’aku selalu muncul ucapan, “Tuhanku, jangankan menjadi hamba-Mu yang penuh dengan kelengkapan taqwa, sedangkan untuk lulus menjadi manusia saja, aku kerap kali mengalami kegagalan, bahkan sampai kini…”

Oleh sebab itulah, Allah hadirkan Ramadhan beserta kewajiban puasa supaya manusia mampu mendidik diri menjadi “manusia” yang benar-benar manusia, bahkan diharapkan pula bisa sampai pada taraf atau goalnya, yaitu la’alakum tattaqun. Kalau puasa dimaknai secara jujur dan mendalam, sebenarnya puasa tidak diwajibkan kepada mereka yang beriman saja, sehingga bagi mereka yang tidak beriman lantas logis merdeka untuk tidak berpuasa.

Bahkan ada juga yang bilang, “kalau Anda muslim, Anda diwajibkan untuk melaksanakan puasa, zakat, puasa dan … “ yang seolah-olah bagi kita kalau —atau mereka yang— tidak muslim tidak apa-apa dan tidak berdosa apabila tak melaksanakan sholat dan tidak berpuasa. Lucu.

Kalau begitu enakan tidak jadi muslim, bisa bebas dari dosa dan segala hukuman. Baik dosa tak sholat, tak puasa, tak zakat juga dosa berkhianat, korupsi, membunuh dan mengambil hak orang lain, melakukan penindasan dan lain sebagainya. Bahkan barang kali juga tidak ada kemungkinan untuk masuk neraka. ‘Kan tidak punya dosa…[]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *