Agen Itu Bernama Mahasiswa

Oleh: Ahmad Miftahudin Thohari

Kalau telinga Anda mendengar kata “mahasiswa” atau mungkin ketika Anda sedang membuka halaman-halaman buku yang Anda baca lalu menjumpai kata “mahasiswa”. Saya ingin bertanya kepada Anda, apa yang pertama kali terlintas dipikiran Anda? Atau hal apa yang langsung terbesit dibenak Anda perihal kata mahasiswa tersebut?

Apa Anda merasakan atmosfer batin yang begitu terasa getarannya? Setidaknya mampu membuat jiwa Anda kagum oleh makhluk bernama mahasiswa itu.

Sebab ‘kan kita tahu bahwa mahasiswa adalah agen of change. Orang-orang yang berada di garis depan peradaban menyongsong zaman. Orang-orang yang begitu cerah masa depannya, sebab mereka bukan orang tertinggal. Orang-orang yang akan membawa bangsa menuju gerbang kemerdekaan sejati. Mahasiswa adalah ujung tombak yang memiliki semangat dan militansi besar untuk mengalahkan segala bentuk kebodohan dan mungkin juga pembodohan.

Mereka adalah lokomotif yang menentukan ke arah mana kelak gerbong-gerbong berisi kesejahteraan, keadilan, kemakmuran yang sangat didambakan bangsa mau diberhentikan dimana. Atau hanya tinggal landas begitu saja.

Tetapi kalau melihat dengan kacamata milenial sekarang ini, urgensi atau relevansi pembelajaran yang ditempuh para mahasiswa itu masih bisa atau tidak, misalnya untuk, katakanlah mahasiswa-mahasiswa era sekarang ini menjadi penentu gerak sejarah dan peradaban zaman. Atau mungkin dalam hal lain sistem atau metode pembelajaran seperti apa yang cocok dan tepat untuk para mahasiswa di era kini.

Kalau kemarin Bapak Menteri kita mengatakan, “kita memasuki era dimana gelar tidak menjadi kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, dan akreditasi tidak menjamin mutu.” Bukannya itu salah satu bentuk pelecehan besar-besaran bagi kita para mahasiswa dan juga kampus-kampus yang mungkin mati-matian melangsungkan jalannya pembelajaran. Serta juga bersusah payah mengupayakan meningkatnya mutu fasilitas pendidikan dengan banyaknya program akreditasi.

Terus bagaimana, sia-sia dong!

Tidak. Tidak ada yang sia-sia sama sekali. Apapun yang kita lakukan tidak akan ada yang sia-sia. Sebab ciptaan-Nya tak mungkin sia-sia. Pasti ada maksud dibalik maksud dalam penciptaan-Nya. Lalu apa maksud dibalik maksud itu?

Loh, itu kan kalau penciptaan-Nya! Bukan penciptaan manusia!

Itu juga bukan masalah kesia-siaan. Itu lebih kepada kebodohan dan ketidakmengertian manusia. Manusia adalah bentuk keterbatasan yang bergerak dan berpikir. Berbeda dengan makhluk lainnya. Akan tetapi justru karena kesemua itulah manusia akan belajar. Termasuk kita. Kalau tidak ada kebodohan manusia tidak akan tergerak hatinya untuk menuju kepintaran. Kalau tidak ada ketidakmengertian tentu tidak akan lahir pengetahuan. Sebab pengetahuan lahir dari rahim ketidaktahuan. Dan juga lewat keterbatasan itulah manusia akan selalu menyadari dan belajar dari kesalahannya. Dari keterbatasan itulah manusia tahu bahwa ia tidaklah sempurna. Hidup adalah serangkaian gerakan dinamis yang selalu bergetar. Berpindah dari posisi ke posisi lainnya. Dari tidak tahu kemudian tahu. Lalu kembali lagi tidak tahu. Tapi juga jangan sampai menjadi orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Dan tentang pernyataan atau statement Pak Nadiem tersebut, saya kira adalah salah satu upaya untuk menyadarkan kesadaran kita bahwa meski pendidikan kampus itu penting tetapi bukan yang terpenting. Terkadang pendidikan kita lebih cenderung menomorsatukan hasil daripada jujur tidaknya proses yang ditempuh dalam upayanya memperoleh hasil tersebut. Oleh karena itu, pernyataan tersebut bagi saya mengandung pesan tersirat bahwa kompetensi yang kita peroleh di luar jam mata kuliah kampus adalah bagian terpenting juga. Dan mungkin malah sangat urgen untuk bekal hidup. Sebab terkadang kenyataan yang ada di lapangan itu bisa saja bertolakbelakang dengan berbagai macam teori yang kita pelajari di dalam kelas. Jadi, belajar kepada kenyataan langsung jauh lebih mengena ketimbang mengawang-awang hal-hal yang abstrak.

Peran Mahasiswa

Tidak ada hal yang lebih indah dari belajar dan berpengetahuan. Allah menghendaki hamba-Nya untuk selalu ber-iqra’. Membaca. Di dalam membaca tersirat anjuran untuk selalu belajar. Tetapi membaca apa? Membaca segala bentuk kebesaran ciptaan-Nya. Membaca segala amtsal-amtsal yang diletakkan-Nya dalam konstelasi alam semesta juga di dalam diri kita sendiri. Membaca segala persoalan dunia dan zaman, juga sampai menyentuh ke persoalan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kewajiban mencari ilmu adalah wajib dari sejak dalam gendongan ibu sampai akhirnya ditempatkan sendiri di liang lahat yang gelap.

Setiap entitas di alam semesta mempunyai peran sesuai apa yang telah di-set-up-kan kepadanya. Salah satunya manusia. Hidupnya manusia di dunia ialah untuk mengetahui perannya dan seberapa pandai ia dalam memerankan perannya. Di situlah sebenarnya letak keberhasilan manusia dalam hidup. Orang yang masih terganggu dengan apapun yang disukai maupun yang tidak disukai. Tidak akan atau akan sulit menemui kedewasaannya. Kedewasaan itu terjadi ketika ia tahan dan legowo melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Dan tahan untuk tidak melakan hal-hal yang ia sukai demi terciptanya kebaikan dalam skala yang leibih besar.

Kalau mahasiswa adalah sebagai agen of change. Tonggak sejarah. Ujung tombak peradaban. Maka ia harus punya sikap atau kedewasaan tinggi. Mental dan raganya harus seimbang kuatnya. Sebab ia memiliki peran yang kompleksitasnya tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Apalagi dengan mata sebelah. Mahasiwa harus mampu mengusai segala persoalan zaman. Ia harus paham betul di posisi mana sekarang bangsa kita ini berdiri. Di atas tungku api yang berpotensi membakar hangus. Atau di atas air yang akan menenggelamkan.

Mahasiswa harus mampu mendayagunakan akalnya dan daya juangnya seperti halnya Ibrahim. Ia harus memiliki stamina prima dan kegigihannya harus tangguh seperti Musa. Ia harus punya kefasihan bicara bagaikan Harun dan keindahan Daud yang mampu menghentikan gerak alam ketika mendengar suaranya. Kejujuran dan keikhlasannya harus unggul seperti Yusuf yang dimasukkan ke dalam sumur. Ia harus setabah Ayyub ketika ujian datang menimpanya. Hatinya harus sejernih Khidir. Pikirannya harus suci seperti Isa. Sehingga ia mampu menemukan kelengkapan dan kematangannya untuk melahirkan peradaban besar dalam diri Muhammad.

Wahai Mahasiswa! Berdoalah dalam setiap waktumu. Angkatlah tanganmu, tengadahkan tanganmu ke atas langit dan tundukkan hatimu ke kedalaman bumi.

Ucapkanlah:
Ya Allah Engkaulah Rabb, Tuhanku
Tanamilah kebunku,
Dengan keinsafan Adam ketabahan Nuh kecerdasan Ibrahim
Kepasrahan Ismail Kegigihan Musa kebersahajaan Ayyub
Kebijaksanaan Yakub Keikhlasan Yusuf kesabaran Yunus kewibaan Sulaiman
Ketangguhan Daud Kefasihan Harun kejernihan Khidir kesucian Isa
Hingga kematangan Muhammad
Tuhanku, tanamilah kebunku.

Alasan saya memakai term para nabi adalah bahwa mereka adalah manusia pilihan yang tidak hanya cerdas akalnya tetapi juga jujur dan suci hatinya. Serta mereka selalu dibimbing oleh Tuhan Kekasihnya. Tentu apapun keputusan yang mereka ambil selalu dalam pertimbangan matang untuk kemaslahatan umat manusia. Tuhan dijadikan pertimbangan utama bagi mereka.

Karena bagi saya mahasiswa adalah manusia unggul yang dihutangi sejarah para pendahulunya untuk senantiasa menjaga jalannya kehidupan yang menyelamatkan. Mahasiswa bukan manusia yang hanya mengejar nilai-nilai semu, artifisial dan klenik yang dituliskan di atas selembar kertas yang kemudian ia gunakan untuk meminang menjadi alat industri. Mahasiswa tahu dan paham bahwa nilai sejati ialah sesuatu yang harus dijalankan dan diperjuangkan dalam setiap segi kehidupan. Nilai baginya adalah hakekat inti yang bersemayam dalam rahim dan jiwanya kehidupan. Sedikit saja tubuh nilai tergores maka bersiaplah untuk mengalami ketimpangan dan ketidakseimbangan dalam hidup.

Mereka merasakan sakit dan derita ketika rakyat menderita. Mereka guncang ketika rakyat dipermainkan. Mereka gusar dan membantah ketika sistem negara yang berjalan justru menindas kehidupan. Mereka tidak betah ketika negara yang yang ditempatinya tidak mencerminkan apa yang dinamakan negara. Mahasiswa punya segudang metode dan berbagai macam obat untuk menyembuhkan penyakit yang kini sedang di diderita oleh negara. Sebab yang mengalir di dalam dirinya bukan hanya pengetahuan formal. Pancaran ilahi juga memancar dikandungan nurani sucinya.

Sedangkan hasil bagi mahasiswa bukanlah ketika ia mampu menduduki kursi jabatan tinggi. Hasil bukanlah ketika ia dielu-elukan namanya dalam buku-buku sejarah. Bukanlah hasil apa yang disebut kekayaan palsu, kemajuan palsu, kemapanan palsu. Hasil adalah getaran rohani di dalam relung jiwa yang menyejukkan ketika ia melihat manusia hidup dengan aman, sejahtera dan penuh kegembiraan. Perjuangan dan setiap jalan yang ia tempuh merupakan hasil yang tidak bisa tergantikan oleh gelar apapun, jabatan apapun dan model kekayaan apapun. Hasil adalah apa yang akan ia nikmati kelak bukan di dunia. Adapun gelar, jabatan dan berbagai macam bentuk kekayaan dan kemapanan baginya hanyalah akibat, efek samping ketika ia telah total mengabdikan diri untuk memperjuangkan kehidupan.

Wahai Mahasiswa yang engkau hidup dengan uluran tangan negara!

Di atas pundakmu jauh lebih dibebani untuk membawa dampak bagi bangsa. Maka, kewajiban dan tugasmu adalah lebih dari apa yang saya tuliskan di sini. Sebab engkau adalah orang-orang yang terpilih.[]

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *